Sebuah rokok akhirnya ia bakar juga. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Asap masuk dan keluar tak lama kemudian dengan bentuk hembusan berantakan. Setelah bagian depan yang terbakar sudah agak panjang, ia menghempaskannya asbak. Kalau tak ada, ke segala arah.
Sudah 5 tahun ia aktivitasnya tidak bisa lepas dari barang mungil itu. Taufiq Ismail mengistilahkan rokok sebagai “tuhan lima centi”. Dan ia suka sekali dengan sajak itu. Tapi mengapa ia masih suka menghirup aroma tuhan lima centi itu? ia tak pernah berhasil melupakannya.
Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil
Ledakan terdengar tiba-tiba. Orang-orang yang melintas kalangkabut. Suasana riuh. Pemadam kebakaran berusaha memadamkan. Beratus-ratus petugas keamanan dikerahkan. Tempat-tempat yang diduga akan menjadi sasaran peledakan segera diamankan.
Di mana-mana desasdesus akan terjadi ledakan menyebar pesat di seantero Jakarta. Mal-mal, plasa, dan tempat pembelanjaan lainnya sepi seketika. Jalananpun lengang. Semua orang ketakutan. Takut kalau-kalau gedung dekat jalan yang mereka lintasai meledak dan mengeluarkan api. Serpihannya pasti akan sampai padanya.
Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil
Januari 19, 2009 • 6:21 pm
“Pemilihan umum telah menanti kita.” Itu ungkapan pemilu pada tahun 2004 dan tahun-tahun sebelumnya. Namun sekarang sudah berubah, “Pemilu tak pernah kita nantikan.” Ya, bayangkan saja, saat ini ada sekitar 34 partai yang siap membingungkan warga Indonesia. Dan, setiap partai memiliki caleg DRP/D sendiri-sendiri. Entah berapa anggaran yang dikeluarkan KPU dalam hal cetak-mencetak? Saya kurang mafhum. Yang saya tahu, harga terendah hingga harga tertinggi saya mencetak beberapa kalender dari berbagai caleg partai. Soalnya, sembari kuliah, saya juga mencetak kalender untuk partai. Saya tidak menyia-nyiakan ilmu desain, hasil saya bertapa bermalam-malam di pondok pesantren.
Read the rest of this entry »
Filed under: Esai