Kampoeng Pujangga

Ikon

Utuy Tatang Sontani

Utuy Tatang Sontani (Cianjur, 1 Méi 1920 – Moskow, 1979), Salah seorang angkatan ’45 terkemuka, mula-mula terutama karena romannya “Tambera” dan cerita-cerita pendeknya yang dikumpulkan dalam “Orang-orang Sial” Tetapi ia kemudian lebih terkenal dengan lakon-lakonnya. Meskipun lakonnya yang awal “Suling” dan “Bunga Rumahmakan” ditulis seperti biasa, tapi akhirnya ia menemukan cara menuliskan lakon yang unik.
Di antara lakon-lakonna nu kawentar nyaéta Awal dan Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Sang Kuriang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Si Kabayan (1959), jeung Tak Pernah Menjadi Tua (1963).
Senin 17 September 1979, pengarang terkemuka tersebut wafat di Moskow, Uni Soviet (Rusia) akibat serangan jantung. Menurut Ajip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia, Utuy adalah salah seorang pengarang Indonesia yang penting, termasuk angkatan’’45 dan namanya terangkat lewat roman Tambera, tahun 1949, aslinya Sunda 1943 yang berlatar belakang keadaan Banda abad ke-17. Sebelum tahun 1965, Utuy pernah ke Peking (Beijing) untuk berobat. Kemudian dari sana ia pergi ke Uni Soviet serta mengajar pada Institut Bahasa-Bahasa Timur di Moskow.
Menurut Ajip pada awal 1960-an, Utuy masuk Lekra/PKI. Tindakan ini oleh Ajip Rosidi disebut sebagai ‘belokan tajam’’ dalam perjalanan hidup Utuy. Sebab, sebelum itu, dalam drama-dramanya ia sangat menonjolkan sifat individualistis, yang tidak sesuai dengan paham Lekra. Dramanya, Sayang Ada Orang Lain, misalnya menampilkan tragedi yang terjadi karena adanya campur tangan orang lain ke dalam kehidupan rumah tangga seseorang. Puncak individualisme dalam drama Utuy, menurut Ajip, terdapat dalam Sangkuriang. Dalam drama yang diubah menjadi sebuah Libretto ini, mitologi Sunda satu ini mendapat sorotan baru yang indiviualistis. Tentang motivasi Utuy masuk Lekra, Ajip mengatakan bahwa kesulitan ekonomilah yang mendorong ia mengambil langkah tersebut.
Kritikus sastra H.B. Jassin memberikan tempat cukup luas bagi Utuy dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai. “Dalam jumlah karangan, seolah-olah Sontani telah banyak sekali menghadiahi kita drama-drama, tapi kuantitas hasil tidak berarti kuantitas isi. Persoalan-persoalan yang dikemukakannya dalam sekian banyak drama itu kebanyakan sama aja dan saya mendapat kesan bahwa beberapa masih berupa latihan”, tulis Jassin.
Utuy mungkin merupakan pengarang yang paling mahir diantara pengarang-pengarang seangkatannya. Ia mempunyai perasaan yang sangat tajam terhadap proporsi dan dia berhasil dalam mencekam perhatian lewat variasi dan kontras, dan terutama drama-dramanya seringkali menjulang berkat komposisinya yang terampil. Bahasanya hidup dan menarik. Untuk Sontani humor dan ironi merupakan senjata yang kuat. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak.

About these ads

Filed under: Profil Sastrawan

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!



salam

Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Nge-blog yuk!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: