Buku Sepasang Mata yang Cemburu

Epilog
Kumpulan puisi dalam buku berjudul “Sepasang Mata yang Cemburu”, merupakan catatan dari ketidakmampuan saya berdamai dengan mata yang merekam taman surgawi seakan pemandangan buruk dan tak layak ditampilkan. Dalam tempo itu, ketidakadilan, kegelisahan, kepedihan berbicara dan meminta saya merekamnya.
Rekaman-rekaman itu tercecer di mana saja, setiap kali mata saya menjalankan fungsinya. Menatap yang tampak. Menyimak yang nyata. Namun, rasanya lebih damai bila mata itu terpejam, tersebab dalam keadaan terbuka ia selalu membaca kenakalan-kenakalan yang terselubung.
Sepasang mata yang saya miliki adalah sepasang mata seorang migran. Ia cukup merasakan kehadiran pulau gersang, laut terbentang, dan gedung yang menantang. Dan semua itu tidak membatalkannya untuk menjalani segala yang ia lihat dengan tabah walau sedikit menyimpan kecemburuan.
Mata itu tetap setia menyimpan kerinduan pada kekasih yang selalu ia tinggalkan, bagai seorang yang berdiri di atas papan selancar. Ia tahu ada ombak setinggi gunung datang dan siap menggulung. Namun, dengan penuh keseimbangan, ia mencoba menghadapi maut yang semakin akrab pada setiap jengkal pacuan papan selancar itu.
Matahari, ia selalu menabur cahaya. Mata pisau, ia selalu menetak keangkuhan. Mata hati, secara sembunyi-sembunyi, ia adalah hakim pemisah baik tidaknya kenyataan. Mata kaki, ia menentukan tempat pijak yang kokoh. Mata saya…? Setiap menatap yang tampak, ia senantiasa mengubur pedih yang tak pernah tampak.
Jakarta, 02:22 | 5/16/2010
Ali Ibnu Anwar
Catatan beberapa tokoh:
Puisi-puisi Ali Ibnu Anwar, adalah puisi-puisi yang hebat, sehingga melebihi usia penulisnya. Layak diapresiasi.
Taufik Ismail, Penyair dan Budayawan Indonesia
———————————–
Yang pertama-tama menggoda saya dari buku ini adalah judulnya: Sepasang Mata yang Cemburu. Sepasang mata macam apakah ia? Mata biru, cokelat, ataukah hitam? Kepada siapakah ia cemburu, dan kenapa cemburu? Diam-diam saya berharap, sayalah salah seorang yang dia cemburui. Sebab, bila dia cemburu pada saya, saya akan tahu paling tidak satu sisi dari hidup saya, yang mungkin selama ini tidak saya sadari. Ialah sisi hidup saya —entah yang mana— yang telah membuatnya cemburu. Cemburu akan membuka mata saya pada hidup saya sendiri yang dalam banyak hal tertutupi oleh egoisme saya pribadi. Pada saat itu, saya sangat berbahagia.
Jamal D. Rahman – Pemimpin Redaksi majalah Sastra Horison
———————————–
Ali menawarkan tafsir tentang laku manusia dan lingkungannya. Seperti sosiolog merekam fenomena masyarakat, dia merangkai mozaik hidup manusia dan alam dalam bingkai kata yang sederhana, tapi bermakna. Simpel dan cerdas tanpa pretensi menggurui. Puisi sosiologis yang layak dinikmati.
Arif Firmansyah, jurnalis Tempo dan penikmat karya sastra
———————————–
Sepasang Mata yang Cemburu yang dimaksudkan Ali dalam kumpulan puisinya, tak hanya isyarat yang menggambarkan pengalaman secara lahiriah saja. Lebih jauh, ia telah berhasil mengolah pengalaman bathiniah yang begitu mendalam. Sehingga puisi yang paling sederhana pun memiliki ruang makna yang luar biasa.
D.Zawawi Imron, Penyair dan Pelukis Madura
Filed under: Esai


