Sebuah rokok akhirnya ia bakar juga. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Asap masuk dan keluar tak lama kemudian dengan bentuk hembusan berantakan. Setelah bagian depan yang terbakar sudah agak panjang, ia menghempaskannya asbak. Kalau tak ada, ke segala arah.
Sudah 5 tahun ia aktivitasnya tidak bisa lepas dari barang mungil itu. Taufiq Ismail mengistilahkan rokok sebagai “tuhan lima centi”. Dan ia suka sekali dengan sajak itu. Tapi mengapa ia masih suka menghirup aroma tuhan lima centi itu? ia tak pernah berhasil melupakannya.
Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil
Ledakan terdengar tiba-tiba. Orang-orang yang melintas kalangkabut. Suasana riuh. Pemadam kebakaran berusaha memadamkan. Beratus-ratus petugas keamanan dikerahkan. Tempat-tempat yang diduga akan menjadi sasaran peledakan segera diamankan.
Di mana-mana desasdesus akan terjadi ledakan menyebar pesat di seantero Jakarta. Mal-mal, plasa, dan tempat pembelanjaan lainnya sepi seketika. Jalananpun lengang. Semua orang ketakutan. Takut kalau-kalau gedung dekat jalan yang mereka lintasai meledak dan mengeluarkan api. Serpihannya pasti akan sampai padanya.
Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil
Januari 18, 2009 • 4:14 am
“Apa?” Kata saya, “yang bener aja. Masa UAS tanggal 19?” dan teman-teman saya segera membawa saya melihat papan pengumuman. Dan ternyata benar, UAS akan diselenggarakan tanggal 19. Saya bukan kaget karena harus mengikuti ujian. Masalahnya, saya bermasalah dengan dua dosen saya: Dosen MK Sejarah Sastra & Dosen MK Membaca.
Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil
Januari 15, 2009 • 10:23 pm
Akhirnya selesai juga kerjaan. Ceritanya, seminggu yang lalu ada order dari Departemen Agama, untuk menyelesaikan buku Rencana Anggaran dan Program Direktorat Pendidikan Islam tahun 2009. Namun, prosesnya cukup lama dan memakan waktu cukup melelahkan. Tapi hari ini, 15 Januari, buku itu selesai juga. Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil
Desember 22, 2008 • 12:35 pm
“Maaf pak saya tidak bermaksud menyiggung perasaan bapak.” Demikian saya mengakhiri telepon yang pada salah satu dosen yang merasa tersinggung akubat ulah saya. Kemudian beberapa saat kemudian dia mengirim sebuah pesan “we must to be discuss…”. Read the rest of this entry »
Filed under: Catatan Mungil