Januari 19, 2009 • 6:21 pm
“Pemilihan umum telah menanti kita.” Itu ungkapan pemilu pada tahun 2004 dan tahun-tahun sebelumnya. Namun sekarang sudah berubah, “Pemilu tak pernah kita nantikan.” Ya, bayangkan saja, saat ini ada sekitar 34 partai yang siap membingungkan warga Indonesia. Dan, setiap partai memiliki caleg DRP/D sendiri-sendiri. Entah berapa anggaran yang dikeluarkan KPU dalam hal cetak-mencetak? Saya kurang mafhum. Yang saya tahu, harga terendah hingga harga tertinggi saya mencetak beberapa kalender dari berbagai caleg partai. Soalnya, sembari kuliah, saya juga mencetak kalender untuk partai. Saya tidak menyia-nyiakan ilmu desain, hasil saya bertapa bermalam-malam di pondok pesantren.
Read the rest of this entry »
Filed under: Esai
Desember 12, 2008 • 2:13 am
Membaca kover depan Majalah Sastra Horison, No 5, terbitan bulan Mei 2005 lalu, tepatnya ketika saya masih di pesantren, saya terakejut, karena tertera surat Kontowijoyo—barangkali itu surat terakhirnya kepada Redaksi majalah sastra nusantara tersebut. Karena, tiga minggu setelahnya, Kontowijoyo wafat. Kurang lebih, demikian isi surat yang ditulisnya tersebut: Read the rest of this entry »
Filed under: Esai