Kampoeng Pujangga

Ikon

Pengantin Baru yang Gelisah

Malam ini, malam pernikahan Turiman. Di samping pelaminan, sudah dibangun sebuah panggung. Orang-orangpun segera tahu kalau itu adalah panggung untuk penyanyi dangdut menyambut para tamu yang datang untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Biasanya juga untuk menyambut orang-orang dari pihak pria dalam acara tembang manten*. Dimana kedua pengantin naik ke pentas dan semua orang, terutama dari pihak pria memberikan bunga-bunga sosial berupa uang sawer kepada pengantin dan juga penyanyi dangdut.
Sejak sebulan yang lalu, Turiman sudah mengumpulkan uang untuk membeli perabotan dan juga untuk acara resepsinya nanti. Hal seperti itu sudah biasa. Terutama bagi penduduk Madura barat yang tinggal di Jakarta.
Turiman termasuk orang yang beruntung. Teman-temannyapun berkata demikian. Karena dia mendapatkan calon istri yang cantik dan juga kaya. Sedangkan dia tidak begitu kaya. Masuk golongan orang cukup lah.
Semula ayahnya tidak setuju Turiman tunangan dengan Hani. Karena memang ayahnya tahu apa yang akan dilakukan oleh keluarga kaya itu nanti pada malam resepsi pernikahan anaknya. Tapi Turiman memaksa. Dia terus mendesak ayahnya, sehingga ayahnyapun menyerahkan segala urusan kepadanya. Turiman siap. Ayahnya akhirnya ikut-ikutan setuju dengan pertunangan anaknya itu.
Turiman terus berusaha pontang-panting. Baik itu dalam bekerja maupun mencari pinjaman uang kepada teman-temannya. Dia pernah menunda waktu yang sudah ditentukan untuk pernikahannya yang diajukan oleh orang tua Hani. Masalahnya hanya satu. Dia masih belum siap.
Setelah kedua kalinya orang tua Hani mengusulkan waktu yang berbeda, sebenarnya Turiman akan menolaknya lagi. Tapi dia takut kalau-kalau orang tua Hani memutuskan pertunangannya. Segala resikopun dia tanggung. Diterimanya usulan itu. Dia berpikir toh nanti hutang-hutangnya akan terlunasi setelah acara pernikahannya.
Sampailah pada suatu kesempatan. Turiman sudah pembeli perlengkapan rumah. Dari tempat tidur, lemari hias, lemari baju hingga genap dengan sofa yang baru kemarin bisa dia beli dengan dari mebel temannya dengan harga diskon. Turiman semakin mantap. Ayahnya masih gagap.
“Sudahlah, kalo memang kamu masih belum siap benar. Tunda lagi saja. Itu lebih baik daripada kamu paksakan terus.” Ayahnya kembali mengingatkannya. Karena dilihatnya Turiman yang pontang-panting menyiapkan segalanya. Sedang ayahnya hanya mampu membantu sekadarnya saja. Termasuk menyumbang membeli sofa.
“Malu pak. Apa kata orang nanti. Walaupun kita orang biasa, jangan tunjukkan kelemahan kita kepada mereka.” Sanggah Turiman memberikan pengertian yang sebenarnya sudah tidak asing bagi ayahnya.
“Benar. Sudah kamu pikirkan mantap-mantap?”
Turiman mengangguk. Ayahnya segera masuk kamar. Ditinggalnya turiman sendirian di ruang tamu.
Turiman segera membuat undangan untuk teman-temannya. Baginya, inilah kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia mampu mengwini Hani, gadis yang banyak diincar oleh teman-temannya. Dia tidak mau dianggap lemah walaupun berasal dari keluarga cukup. Lagian Hani juga sudah mantap. Mau tunggu apa lagi?
Sehari sebelum acara resepsinya, teman-temannya berkumpul. Seperti biasa, malam itu ada pesta. Ada bir. Ada sate gulai. Ada aneka buah-buahan. Ada permainan judi. Dan itu sudah biasa.
Setelah itu, Turiman memberi uang kepada teman-temannya. Diharapkannya supaya temannya juga hadir besok dalam acara resepsi pernikahannya dan naik ke atas panggung memberikan saweran kepadanya dan para penyanyi dangdut. Dia tidak mau dikata kere karena orang-orangnya tidak ada yang naik ke pentas memberikan saweran.
Malam itu dirumah Hani dipenuhi dengan lautan manusia. Barangkali saudara-saudaranya dari Madura datang menghadiri acaranya. Juga para undangan termasuk orang-orang yang bukan undangan yang kedatangannya hanya untuk melihat penyanyi dangdut dengan baju yukensi yang menggeol-geolkan pinggulnya sambil mengajak seorang naik ke atas panggung. Nantinya orang yang diajak itu akan menaburkan uang di sekitar tubuhnya yang montok itu.
“Mari berjoget bersama…” Suara penyanyi itu terdengar menggelegar terpantul dari soundsistem yang berdiri di dekat panggung. Yang diajakpun bergantian naik.
Itulah tradisi yang mengalami kematian budaya. Sebenarnya itu bukan tradisi orang Madura. Karena memang satu-satunya pulau yang masih terjaga kelesatarian budayanya adalah Madura. Tak seorangpun wisatawan asing yang berhasil memasukinya. Apalagi merubah paradigma budayanya. Padahal pulau itu sangat kaya akan budaya. Sehingga tidak heran kalau kemudian dari sana kemudian muncul para budayawan terkenal. Terutama di daerah pesisir timur.
Bali juga demikian. Tapi para domestik telah membelinya. Sampai pada suatu kesempatan ada seorang turis yang melenggok-lenggok mengadakan pertunjukannya. Dan itu disaksikan oleh orang banyak. Walau orang hanya memandang ‘wah hanya turis’, orang-orang itu tidak sadar bahwa para domestik itu datang untuk mempelajari tradisi budaya bali. Terutama tari, yang konon katanya segala jenis kesenian bersatu di sana. Baik itu seni teater, beladiri, dan juga seni-seni lainnya.
Sekarang orang-orang Madura itu sudah menjadi orang Jakarta. Sulit di tebak, apakah tradisi di kampungnya masih dipakai, atau sudah tergadaikan.
***
Turiman terlihat semakin tampan ketika duduk di pelaminan. Hanipun demikian. Keduanya seperti raja dan ratu yang sedang disambut kehadirannya oleh tetamu.
Di atas panggung, para penyanyi dangdut itu terus mengikuti irama para musikus. Sekali ada tamu yang datang meminta dinyanyikan lagu kesukaannya. Para penyanyi itupun segera mengintruksikan para musikus untuk memulai sesui lagu yang diinginkan oleh orang yang memesan. Setelah itu, lagi-lagi grup orang yang memesan itu naik ke panggung memberikan bunga-bunga sosialnya kepada penyanyi itu.
Di sebelah panggung terdengar bisik-bisik.
“Mana dari pihak mempelai pria. Kok belum datang?”
“Iya. Ini kan sudah malam. Seharusnya jam segini pengantin sudah naik ke pentas untuk mengikuti tembang manten. Tapi kok masih gak datang.”
“Masih di jalan kali. Siapa tahu macet!” Yang lain ikut-ikutan.
“Tapi katanya ayah Turiman tidak akan datang!” Seseorang membuat gosip baru.
“Jangan sembarangan kamu.”
“Ya, kalo Turiman tahu bisa dihantam kamu.” Suara lain mengawaskan.
“Aku tau dari Wardi, tetangga dekatnya. Dia ada di luar nonton juga. Katanya begitu.”
Bisik-bisik itu kemudian menghilang setelah Turiman turun dari pelaminan untuk mengganti gaun.
MC acara bertanya kepada tuan rumah.
“Mbak yu, kapan tembang mantennya akan dimulai?”
“Tanya saja sama teman Turiman.” Jawab orang yang ditanya.
Temannya ditanyakan. Kemudian dia tanya balik ke Turiman. Turiman tambah gelisah. Ditelponnya Karsan. Karsanpun tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Katanya ayah Turiman benar-benar tidak mau hadir dalam tembang manten. Uangnya sudah habis untuk membeli sofa buat anaknya. Kemarin juga Turiman minta lima juta untuk dibagikan kepada teman-temannya. Tapi teman-temannya tidak akan naik kalau ayah Turiman tidak datang. Karena tradisi yang sebenarnya bukan itu berkata demikian. Harus ada dari pihak pria yang memulai.
Teman-teman Turiman menunggu di luar. Sudah siap mereka naik ke atas panggung. Tapi justru sekarang yang gelisah Turiman.
Turiman minta supaya ayahnya dihubungi kembali. Tidak ada yang bisa meyakinkan. Terpaksa dia sendiri yang menghubingi ayahnya.
“Pak, gimana? Sudah berangkat belum?” Turiman berbicara dengan bapaknya di telepon.
“Kamu sih. Bapak kan sudah bilang, apa nanti yang akan terjadi di malam resepsi kamu. Kamunya gak nurut.” Ayahnya kembali menyalahkan Turiman.
“Tolonglah pak carikan dulu. Biar nanti saya yang ganti. Yang penting sekarang bapak datang dan membawa uang untuk tembang manten. Saya malu pak. Dari tadi ditanya kapan acara tembang mantennya dimulai. Saya tidak bisa menjawab. Makanya tolong diusahakanlah.”
“Ada tiga juta. Tapi itu punya Haji Tohir. Katanya besok pagi mau diambil.”
“Pake saja dulu.”
“Kalo besok benar datang?”
“Saya yang bayar.”
Akhirnya Turiman berhasil meyakinkan ayahnya. Dia pusing tujuh keliling. Uang dari mana yang mau dipakai untuk mengganti uang Haji Tohir. Sedangkan tradisi yang salah mengajarkan, uang saweran itu harus di serahkan kepada pihak wanita.
Semakin malam semakin ramai. Jalanan sesak. Tidak bisa dibedakan kini mana yang undangan dan yang bukan undangan. Sedangkan kedua mempelai terlihat sangat bahagia sekali bisa melewatkan malam di atas pelaminan dengan disaksikan berjuta mata. Sedang yang disaksikan hatinya gelisah.
Ini sudah gaun yang keempat yang digunakan oleh Turiman dan Hani. Setelah sebelumnya memakai gaun layaknya para pembesar Solo yang menyanggul keris di belakangnya.
Semua orang tampak ceria. Semua orang menikmati penyanyi dangdut yang memutar pinggulnya.
Penata rias meminta dua orang yang duduk di pelaminan untuk turun. Katanya sebentar lagi akan memakai gaun untuk tembang manten. Turiman mengarahkan pandangannya kepada para tamu yang duduk. Ayahnya belum terlihat. Dia turun. Sekarang sedikit didengar bisik-bisik yang datang dari dekat panggung. Turiman tidak menghiraukan. Dia segera masuk ke kamar pengantin.
Turiman izin minta waktu untuk buang air. Diapun segera ke belakang. Di dalam kamar mandi, ayahnya kembali di telpon.
“Gimana? Sudah sampai dimana? Acaranya akan dimulai sebentar lagi. Mungkin sekitar lima menit lagi.” Tanya Turiman agak kesal. Tapi tidak ditunjukkan rasa kesal itu takut ayahnya marah.
“Kita sudah sampai di depan. Sebentar lagi masuk.”
Turiman segera menutup handphonenya. Kemudian bergerak ke ruang ganti. Penata rias sudah memilihkan pasangan gaun untuk Turiman dan Hani. Mereka segera memakainya. Setelah selesai, kedua mempelai itu segera keluar.
Di luar terdengar suara MC yang lantang membuka acara tembang manten.
“Baiklah. Para undangan yang kami hormati. Yah, kini tiba saatnya kedua mempelai akan menaiki panggung dalam yang kami rangkai dalam acara tembang manten. Kami minta kedua mempelai untuk menaiki panggung dan diikuti artis-artis cantik kami.”
Turiman menaiki panggung bersama Hani. Setelah keduanya sama-sama duduk, artis-artis penyanyi dangdut di belakang mereka kemudian mengiringinya dengan lagu tembang manten. Keduanya tampak malu.
MC melanjutkan bicaranya.
“Yah, dipersilahkan kepada pihak mempelai pria untuk menaiki panggung.”
Ayah Turiman berada di depan. Diikuti oleh Karsan dan teman-teman yang semalam dia undang. Mereka menuju panggung. Dihamburkannya bunga-bunga Pengantin berupa uang saweran itu di atas kepala kedua mempelai. Dilanjutkan kemudian artis-artis yang mengiringi keduanya di belakang.
Disambut kemudian oleh pihak mempelai wanita yang memberikan selamat dengan juga memberikan bunga-bunga pengantin. Suasana jadi meriah. Setelah itu para undangan juga naik ke panggung melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya disusul tamu-tamu lainnya. Sampai tidak ada lagi yang naik ke pentas. Sampai artis-artis di belakang mempelai berhenti melantunkan lagu.
Turiman lega. Hal yang sangat ditakutkan terjadi telah lewat. Dalam leganya ditahan kegelisahannya diantara lampu kelap kelip yang terpasang di pelaminan. Dilihatnya ayahnya keluar dari keramaian. Tapi ketiadaan ayahnya bukan berarti lagi sekarang.
Para tamu masih menikmati para penyanyi dangdut yang terus berdendang. Tambah malam, tambah banyak yang memesan lagu. Tambah banyak yang ingin menikmati joget bareng artis-artis dangdut di atas panggung. Tetamu juga banyak yang berpulangan.
Setelah acara tembang manten itu selesai, berarti usai pula kedua mempelai duduk di pelaminan. Itu adalah gaun terakhir yang dipakai. Gaun yang digunakan untuk menyambut kehadiran pihak mempelai pria dan wanitanya.
Sayup-sayup terdengar MC mengakhiri acara panggung dangdut itu.
Pengantin baru itu gelisah. Yang pria tidak bisa tidur. Yang wanita gelisah karena yang pria tidak mau diajak tidur.

Jakarta, 26 Agustus 2007

Filed under: Ceritera

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: