Kampoeng Pujangga

Ikon

Peta Penyair Muda Jawa Timur

MENARIK sekali untuk melihat perkembangan dan dinamika para penyair muda Jawa Timur yang terlahir sesudah 1970. Generasi ini kurang lebih mulai menulis puisi pada era 90-an dan yang terlahir pada tahun 1980 mulai menulis pada 2000-an.

Dengan berbagai problematik pencarian jati dirinya. Tentu saja karena wilayah Jawa Timur mencakup daerah-daerah yang bermacam- macam geografinya, baik perkotaan, pesisir, pedesaan, dan daerah transisi, maka wajar saja hasil capaian para penyairnya bervariasi. Belum lagi, secara institusi ada yang menggeluti puisi sejak di SMA,pondok pesantren,maupun saat kuliah.

Dengan begitu, ideologi dan spirit berkarya mereka berbeda-beda pula. Ada pula yang tumbuh dan berkembang lewat komunitas-komunitas seperti Komunitas Sastra dan Teater Lamongan (Kostela), Sanggar Cager Gresik, Bengkel Muda Surabaya, Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan,Forum Penyair Muda Malang, sanggar sastra di ponpes Al-Amin, Prenduan, dan Anaqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Sanggar Lentera STKIP Sumenep,Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Unair Surabaya,Kelompok Studi Selasar (Kesasar) Univ Petra Surabaya,dan komunitas kampus lain.

Untuk menyebut beberapa nama penyair muda di Jawa Timur, di antaranya ada Mashuri,St Fatimah,Deny Tri Aryanti, W Haryanto, Puput Arimanti, Deny Djatmiko,Ahmad Faisol, dan Dewey Setiawan di Surabaya. Di Lamongan, ada Muhammad Aries dan Javed Paul Satha. Di Sidoarjo ada F Aziz Manna dan Taufiq Bahamisah.Di Jombang ada Widi Asyari, Yus Anggara,dan Winarti. Di Mojokerto ada Suyitno Ethexs dan Tuasikal.

Di Bangkalan ada Timur Budi Raja dan M Helmy Prasetya.Di Sumenep ada M Faizi,Ibnu Hajar,Moh Hamzah Arza, M Fauzi,M Zamiel El-Muttaqien,Sofyan RH Zaid,dan Edu Badrus Shaaleh.Di Jember ada Isngadi, Gunawan, Sinung Pambudi,Ali Ibnu Anwar,dan Jeni Indri. Di Banyuwangi ada Taufik Walhidayat. Di Probolinggo ada Indra Tjahyadi, Luska Vitri A.

Di Malang ada Nanang Suryadi,Abdul Mukid, Nur Lodzi Hady, Hamidin, Ragil Supriyanto, Jumairiyah Mawardy, Azizah Hefni dan Hadi Eko Suwono.Di Nganjuk ada ARS Ilalang.Di Madiun ada Panji Kuncoro Hadi. Penyair-penyair yang tumbuh di lingkungan pesantren seperti penyair-penyair muda Madura umumnya mengeksplorasi spiritualitas dan lanskap alam sehingga tampak spiritual dan romantik. Meski demikian, spiritual yang terlalu tersurat juga akan mendangkalkan sifat puisi yang ambigu, prismatik, dan imajiner.

Sehingga perlu ditempuh jalan melingkar untuk menuju ke mu a r a ke s u – f i a n yang dimaksud. Sementara penyair- penyair dari komunitas Gapus atau FS3LP Unair Surabaya banyak yang berkecenderungan bersurealisme ria, macam puisinya Andre Breton atau Kriapur, dengan logika tata bahasa yang “meloncat-loncat” untuk mengejar dunia surealisme.

Beberapa penyair lebih suka menyoroti ketimpangan- ketimpangan sosial yang ada sehingga kadang estetika puisinya dikorbankan untuk mengejar tujuan si penyair, yakni mengkritik kebobrokan yang ada. Saking semangatnya, kadang mereka lupa apakah sedang menulis puisi atau konsep orasi demonstrasi esok pagi. Puisi-puisi dari generasi yang muncul di tahun 2000-an memang memiliki gaya yang tersendiri.

Namun, sublimasi dalam karya-karya mereka perlu ditingkatkan agar tidak jatuh pada puisi “xerox” atau puisi “fotokopi” dari realitas yang ada, yang monoton, tidak ada nuansa, suasana dramatik, apalagi menggetarkan. Karena itu, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan.

Pertama,beberapa penyair masih tampak asyik sendiri, puisi menjadi ungkapan perasaan pribadi, sehingga sifat universal dan kedalaman puisi menjadi tereduksi oleh kepentingan individu yang sentimental. Sangat diperlukan penjelajahan estetika, baik dari segi tema,materi,ungkapan maupun bentuk,agar dapat mencerminkan karakter si penyair.

Kedua,daya juang bahasa juga bukan sesederhana bahasa yang sering kita gunakan sehari-hari maupun kata-kata para politikus, namun lebih kepada penciptaan efek ironi, metafora, dan substansi filosofis. Hal itu diperlukan meski memakai bahasa yang cenderung naratif dan sederhana.

Ke t i g a , karena puisi bersifat seni, maka eksplorasi bunyi, rima, irama, ritme, maupun suasana perlulah mendapat tempat yang semestinya dari sebuah puisi. Dalam tradisi lama, sudah banyak kita temukan pada kidungan, parikan, pantun, dan mantra. Namun, kadang puisi modern juga tidak terpaku pada hal-hal yang bersifat bunyi saja.Ada beberapa penyair yang tidak “memedulikan” bunyi,namun lebih mengolah rasa dan suasana yang hendak dibangun sehingga memunculkan sebuah paradoks kehidupan. Ini pun tidak menjadi soal, tergantung pilihan si penyair.

Keempat, dalam berbahasa perlu dipertimbangkan daya guna bahasa. Karena sejauh-jauhnya pengembaraan berbahasa, jatuhnya juga pada komunikasi. Sutardji Calzoum Bachri dengan kredo puisi membebaskan kata dari beban pengertian, misalnya. Betapapun, bila kita simak puisinya, juga tidak jauh dari komunikasi dalam bentuk yang lebih primitif,yakni mantra. Puisi surealisme misalnya, sejarah munculnya gerakan ini sendiri bermula dari seni rupa.

Konon ada seorang pelukis yang matanya rabun,melukis sebuah bunga, karena rabun, lukisannya yang harusnya realis menjadi nampak absurd dan surealis.Karena itu, puisi surealisme yang baik tentu saja t e t a p membay a n g – k a n ( t e r b a – yang) sesuatu yang nyata dalam ketidaknyataan.Kualitas ini harus dicapai jika tidak ingin disebut sebagai puisi gelap.

Memperbincangkan puisi gelap sendiri akhir-akhir ini menjadi mengedepan. Beberapa penyair Jawa Timur telah dituduh telah melakukan kegelapan puisi.Hal ini bisa kita simak dari komentar Abdul Hadi pada lima penyair Jawa Timur yang diundang dalam Cakrawala Sastra Indonesia,2004.Mereka di antaranya W Haryanto, Indra Tjahyadi, Mardi Luhung,Tjahyono Widianto,dan Tjahyono Widarmanto yang “didakwa” puisipuisi mereka penuh dengan kegelapan.

Apokalipse yang mereka gaungkan belum dapat memberikan kearifan sehingga Abdul Hadi merasa tidak mampu menyelami puisi-puisi ini. Namun, puisi gelap atau tidak masih bisa kita perbincangkan lebih lanjut karena dalam sebuah puisi yang dianggap gelap itu bisa jadi ada beberapa kemungkinan. Menurut hemat penulis, mereka sengaja melakukan perlawanan estetika sastra karena sastra Indonesia telah didominasi sastra tertentu,akhirnya mereka menebar benih sastra non-mainstream.

Posisi tawar penyair-penyair muda Jawa Timur sendiri terlihat cukup menjanjikan di masa depan sebagai potensi yang berharga. Meski demikian, semangat untuk mencari dan berkreasi tetaplah dijaga dan harus memiliki semangat tinggi, kalau tidak ingin disebut sebagai fosil penyair. Karena capaian dan keberadaan mereka ada yang sudah mampu menemukan jati diri, ada yang jalan di tempat (status quo), masih mencari jati diri, bingung (kehilangan orientasi), atau bahkan sudah mulai frustrasi.

Memang tidak mudah untuk tetap bertahan dan terus berkarya dalam nilai estetika sastra. Diperlukan wawasan yang luas.Puisi adalah pemikiran,bukan impuls semata. Sebab itu, diperlukan perjuangan dan pencarian yang tak henti- henti. Goenawan Mohamad memiliki ungkapan yang tepat: puisi (sastra) adalah semacam cinta yang keras kepala.(*)

S Yoga

Penyair tinggal di Sumenep Alumnus Sosiologi FISIP Unair

Filed under: Tulisan Non-Saya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: