Kampoeng Pujangga

Ikon

Debu di Dinding Rumahku

debu yang menempel di dinding rumahku
belum pernah selesai kau baca, sayang.
karena kau tak tahu
pada jendela dan langit-langit,
selalu saja sarang laba-laba.
dinding rumahku air mata ibu
dan separuhnya lantai-lantai tanah
tempat moyangku menyimpan harapan
bagi anak cucunya.

rumahku gumpalan bola tanah
yang dibangun dengan seseka keringat
usapan rindu di pipi moyangku.
di dalamnya ada ranjang-ranjang tua
tempat cucu-cucu mereka pulas merapatkan mata
sambil memeluk bayangan sendiri
yang tercipta dari kilauan lampu-lampu berminyak
di setiap jengkal jendela.

hanya rumah itu yang selalu kurindu, sayang
di setiap sisa pecah gelisaku.
saat kutiupkan rindu
lewat nafas-nafas angin
yang entah mau atau enggan menyampaikannya.

-tahun-tahun adalah bahasa waktu
yang semakin mendewasakanku dan mungkin juga kau-

Jember, 2004-2006

Filed under: Sajak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: