Kampoeng Pujangga

Ikon

Dzikir Sebiji Kacang Tanah

ayahku seringkali membuat istana megah
dengan dzikir sebiji kacang tanah
yang tumpah di latar halaman rumah.
daun yang lebih sejuk, lebih hijau
selalu ditatapnya berulangkali,
seperti mau mengejar matahari
dengan tungkai mimpi
yang menjadi jejak-jejak huruf semedi.

dengan debu lorong-lorong itu
ia mangusap tanah
dan menadahkan separuh harapan
agar mataku tak terpejam
dan mampu menatap rembulan bercahaya keemasan
hingga debu-debu berceceran di halaman rumah
mengumandangkan siul seruling angin kemarau.

aduhai indahnya.

o! kapan kau akan merasa lelah?
seribu jasa yang kau tagih tentu aku eja setiap katanya.
biarlah dulu bunga-bunga kacang tanah itu
bermekaran di sekujur tubuh
hingga angin memutikkan hembusnya
agar aku selalu berdzikir
sebagaimana ayahku menghiasi istananya
dengan dzikir beribu kacang tanah
dari sari-sari kebahagiaan dan do’a.

Madura, 2005

Filed under: Sajak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: