Kampoeng Pujangga

Ikon

Kota Tanpa Masjid di Malam Hari

Akhirnya Juki menemukan sebuah kran di pinggir sebuah gedung. Walaupun tidak terlalu deras, tapi cukuplah untuk sekedar membasuh muka dan mengambil air wudhu. Kemudian menggelar sebuah kertas koran yang sudah dibacanya berulangkali. Dilakukanlah kewajibannya sebagai seorang hamba yang senantiasa taat menghambakan dirinya kepada Dzat yang telah menciptakannya.

Malam itu, Juki sudah berjalan sekitar dua kilo. Memang terlalu malam. Sudah jam setengah sebelas. Tidak ada satu masjidpun yang terbuka pintunya. Dia baru datang dari desa untuk mengadu nasib di kota besar, yang disebut-sebut sebagai ibukota negara itu. Dengan berbekal sebuah tas berisi baju dan beberapa lembar fotokopi ijazah yang baru didapat setelah menamatkan SMA-nya di kampung, dia berharap menemukan penghidupan yang mapan. Syukur-syukur bila nantinya bisa melanjutkan kuliahnya, atau…!
Sebelum berangkat ke kota, Bapak-Maknya, Paklik-Buliknya, sudah terlebih dulu takut. Kota itu terlalu ganas bagi pemuda polos seperti Juki. Kerjanya di rumahpun hanya mengurus dua sapinya dan ikut ke sawah kalau sudah diperlukan. Untuk pengalaman yang lebih, Juki masih belum punya. Hanya di sekolah dia pandai sekali komputer. Bahasa Inggrisnya juga lumayan.
“Di kota itu, kalau pandai komputer bisa kerja di kantor, Mak!” Katanya suatu kali menyanggah kata-kata Maknya.
“Tapi kamu di sana mau tinggal di mana? Mau tinggal di kolong jembatan seperti orang-orang yang ada di tipi-maksudnya televisi- itu?” Kejar Maknya dengan bertanya balik.
“Kan di Jakarta banyak masjid. Di Jakarta itu, masjidnya bagus-bagus. Jadi kalau cuma untuk tidur, gak usah dikhawatirkan. Yang penting, saya minta do’a restu Mak. Karena restu Mak adalah segalanya yang bisa membuat langkah kaki saya sampai ke tempat yang ditujunya.” Juki seperti orang yang sudah pandai beralasan. Maknya hanya bisa diam.
Juki sudah membulatkan niat. Dijualnya seekor sapi miliknya untuk bekal di kota. Yang ada dalam dirinya hanyalah mengejar segala yang dicita-citakan. Dia pikir dengan sedikit kelebihan yang dia punya, bisa menjamin hidupnya di kota. Nyatanya demikian. Dia begitu yakinnya dengan semua.
Semangat hidupnya seperti terpompa ketika dia sudah berada di atas kereta. Tak pernah dibayangkan hal-hal yang menakutkan. Kesulitan yang akan dia hadapi di kota. Pakliknya yang hanya guru madrasah di desa juga agak khawatir walaupun sedikit memberi dorongan kepada Juki. Selain karena Juki memang orangnya pandai, dia juga punya kemauan keras. Tapi sikapnya yang polos itu, membuat semua orang rumah khawatir.
“Di kota itu sering terjadi penipuan, yuk!” kata Paklik-nya kepada Maknya Juki setelah Juki berangkat dan entah sudah sampai dimana.
“Benar, dik. Mudah-mudahan Juki tidak mengalami hal seperti itu.”
“Yang penting sekarang, yuk banyak berdo’a saja agar Juki baik-baik saja.”
Di atas kereta, Juki melihat keadaan tanah airnya yang melimpah. Sawah-sawah yang dilewatinya mengingatkan sawah Bapaknya yang biasa dia garap bersama-sama. Pemandangan itu mengajak Juki kembali menengok suasana desa. Dia hanya tertawa ketika melihat anak-anak yang menarik layang-layang di tengah sawah. Kalau anak-anak itu masuk ke lahan, kemudian Juki datang, anak-anak itu seolah lari ketakutan melihat Juki karena menyadari kesalahannya. Setelah lelah, mereka akan mendinginkan tubuh mereka di dam sungai. Mereka bergantian melompat dari atas dam. Berlari-lari sambil telanjang dan terjun ke dalam sungai.
Ketika masih kecil, Juki juga sering melakukan hal yang sama. Tiba-tiba dia merasa malu membayangkan tubuh mungilnya yang bugil itu. Pernah suatu kali Juki tergulung oleh derasnya air yang mengalir di dam. Kemudian dia susah mengendalikan tubuhnya. Hasilnya, teman-temannya yang melihat Juki mengambang di air segera membawanya ke atas. Tubuh Juki diayun-ayun ke atas dengan posisi perut membujur seperti gaya kayang.
Setelah kejadian itu, Juki takut mandi di dam. Bapak-Maknya juga memarahi Juki habis-habisan. Juki yang mendengar seperti ketakutan dan menahan isaknya yang berat akibat sabetan rotan Bapaknya.
Saat-saat seperti itu, terkadang Bapak-Maknya seringkali bertengkar. Mak Juki seperti tidak terima kalau anaknya dipukul dengan terlalu. Akhirnya bergantilah suasana.
“Pak, mbok jangan keterlaluan kalau mukul anak. Itu anak Bapak juga kan!” Maknya mencegah Bapaknya yang terus memukul Juki.
“Biar jera dia. Kalau dibiarkan dia, tidak ada takut-takutnya.”
“Terus kalau dia mati?”
“Dia saja tadi hampir mati karena kelalaian kita. Apa kamu tidak sadar.”
Merasa kalah, akhirnya Maknya menggendong Juki dan membawanya masuk kamar. Di dalam kamar terus dibujuknya Juki untuk diam sambil meninabobokkannya.
-o-
Penjual rokok yang menawarkan jajaannya membuat Juki terbangun dari bayangan masa lalunya. Tak benar-benar diketahui sudah sampai dimana dia sekarang. Yang pasti, pemandangan pesawahan yang dirasakannya tadi sudah lenyap, berganti dengan rumah-rumah yang kerap dan gedung-gedung yang menjulang.
Juki membenarkan posisi duduknya. Entah karena memang ingin berganti dengan sendirinya, atau dia mulai merasakan kalau pantatnya sudah terasa panas.
Suara gemuruh gerbong membuat Juki terlelap. Dalam lelapnya, terpasang bayangan Hafsah, gadis yang minta untuk segera dilamar. Ditatapnya wajahnya yang tak berdaya di hadapan Hafsah. Dalam ketakberdayaannya tersimpan sebuah kesumat yang dalam pada dirinya.
“Cak Juki, hubungan kita terlalu dekat. Bagaimana kalau sebaiknya ada ikatan resmi di antara kita agar tidak menjadi fitnah bagi warga kampung.” Wajah Juki kecut ketika mendengar perkataan Hafsah. Seperti mendengar bisikan, Jukipun memberanikan diri untuk menjawab.
“Tapi saya masih belum gawe. Adanya ikatan itu bisa saya wujudkan kalau saya sudah punya penghidupan yang cukup dan tidak lagi numpang sama Bapak dan Mak. Sabarlah kau sedikit.”
“Apa kata orang-orang nanti?” Seperti nada tuntutan, Hafsah terus mendesak Juki.
“Yang akan menjalani rumah tangga itu kita. Bukan orang-orang itu. Jadi biarlah kita tahan dulu. Toh kalau kita kesusahan, mereka tidak semuanya akan membantu kita. Karena nasib mereka juga tidak jauh berbeda dengan kita.”
Saat Juki berusaha meyakinkan Hafsah, gadis itu seolah menyimpan kesedihan yang dalam.
Kasak kusuk di desa sudah semakin ramai.
Warga desa sudah mengetahui hubungan Juki dengan Hafsah. Memang mereka tidak pernah berbuat suatu kesalahan yang mempermalukan warga. Sikap Juki yang selalu mengunjungi rumah Hafsah dipandang tidak menyedapkan pemandangan warga sekitar rumah Hafsah. Ibu Hafsah juga sering menanyakan hal tersebut kepada Hafsah, tapi jawaban yang diberikan Hafsah selalu membuat ibunya khawatir.
“Suruh saja Juki melamarmu secepatnya!” desak ibunya suatu kali.
“Cak Juki belum siap, Mak! Belum punya gawe katanya.”
“Sawah orang tuanya kan lebar. Biar saja dia melakoni sawahnya. Kan gawe juga namanya.”
“Dia tidak mau terlalu mengharapkan warisan Bapak-Maknya. Katanya sawah itu milik mereka, jadi Cak Juki tidak mau ikut campur.”
“Terus, mau nunggu sampai rejeki turun dari langit?”
“Taulah!” jawab Hafsah lirih. “Katanya dia mau kerja di kota. Pengen jadi pegawai,” lanjut Hafsah.
“Ya, syukurlah!” Seperti ada harapan dalam pujian itu.
Malampun pecah. Juki menemukan dirinya di dalam kereta. Dia sadar ternyata tadi adalah bayangan Hafsah yang terpasang dalam mimpi. Diapun tambah yakin dengan tujuan sebenar-benar tujuan, untuk mencari kerja dan memperoleh penghidupan yang bisa untuk melamar Hafsah.
Tanpa disadari kereta yang ditumpangi sudah ada di tengah-tengah kota.
Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang jalan dan gedung-gedung tampak megah. Tak dilihatnya aliran yang menyambungkan lampu-lampu itu, seperti ada dengan sendirinya. Keadaan langit yang gelap membuat perenungan baru dalam hatinya, seolah benda-benda langit yang biasa dilihatnya ketika malam hari di desa pindah ke bumi. Dan dia merasa ada di tengah-tengahnya.
Ketika turun ke jalan, banyak ditemui mobil-mobil mewah yang berlalu lepas lewat di hadapannya. Rasa takut menjadi ada ketika hendak melintasi jalan. Mobil-mobil itu seperti hendak menghantam tubuhnya. Dirasakan sungguh keadaan yang berbeda dengan suasana di desa.
Di seberang jalan, dilihatnya sebuah masjid besar. Diapun ingat bahwa dia masih belum shalat. Lama sekali dia menunggu mobil-mobil berhenti. Tapi tak satupun adanya. Sampai terlihat lampu merah yang semacam komando memberhentikan mobil-mobil itu secara serentak. Pergilah Juki melintasi jalan raya yang sarat dengan karamaian.
Di luar gerbang masjid, banyak kaki lima yang menjual rokok dan juga minuman. Diapun mampir untuk membeli sebotol. Setelah minum, dia menuju masjid. Gerbangnya sudah terkunci dengan gembok. Diapun memberanikan diri untuk bertanya kepada pedagang kaki lima yang diampirinya tadi ketika membeli sebotol air mineral.
“Maaf pak, pemilik masjid ini siapa ya?” Mendengar pertanyaan Juki yang agak aneh itu, pedagang itupun menjawab sekenanya.
“Ini milik umum mas.”
“Kok tidak dibuka?”
“Jam segini sudah tutup.”
“Terus, masjid lain di dekat sini yang dibuka di mana ya?”
“Di sini, jam segini tidak ada masjid yang buka.”
Mendengar ucapan pedagang tadi, Juki jadi menghawatirkan dirinya. Dia bertanya kepada dirinya ke mana dia harus menemukan tempat untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang dari desa.
Juki minta diri kepada pedagang tadi.
Sepanjang jalan, Juki hanya menumpai kebisingan kota dengan berbagai kemewahan di dalamnya. Dia membayangkan nantinya bekerja di salah satu ruangan di antara gedung-gedung yang dilihatnya. Toh, dia sudah tamat SMA, yang menurut orang-orang di desanya, pendidikannya sudah tinggi dibandingkan teman-temannya yang lain.
Walaupun malam hari, tak dirasakannya hawa dingin. Yang ada hanya deru mesin-mesin yang menghujamkan aura panas di sekitar tubuhnya. Debu-debu membeku di kulitnya. Tapi hal seperti itu sudah biasa dirasakan ketika bekerja di sawah dengan tanah belepotan di tangan dan kakinya.
Selama berjalan jauh, tak ditemuinya satu masjidpun yang terbuka. Sungguh tak disangkanya kalau dia akan tiba di sebuah kota tanpa masjid di malam hari. Walaupun ditemuinya beberapa masjid dengan menara-menara tinggi menjulang menghalangi penghihatannya sampai ke langit dengan lampu serba melimpahkan cahaya di atasnya, tapi pintunya terkunci. Tak ubahnya dengan gedung-gedung tak berpenghuni yang terhampar di sepanjang jalan.
Dia pernah mendengar di televisi kalau kota itu sangat ganas. Sehingga banyak orang-orang jahat di dalamnya. Teringatlah dia pada sebuah tayangan televisi yang memberitakan sebuah pencurian uang di kotak amal masjid. Bahkan di tayangan lainnya, ada seorang pencuri uang di kotak amal yang berubah menjadi buaya. Kejadian-kejadian itu menjadikan alasan yang kuat bagi Juki, mengapa orang-orang di kota tidak mau membuka masjid di malam hari. Selain itu, ketika membaca koran, Juki melihat berita tentang rencana pencurian pesawat mikrofon di suatu masjid oleh beberapa orang, tapi segera diketahui oleh salah seorang takmir masjid. Kota memang penuh penghianatan. Tapi Juki berusaha untuk tidak menjadi seperti mereka. Bagaimanapun caranya.
Juki duduk di sebuah halte, setelah lama berjalan cukup jauh. Dia dapat meyakinkan diri, bahwa tak akan pernah ditemukannya masjid yang terbuka di malam hari. Pandangannya mengarah ke mana-mana. Yang dingin dicarinya hanyalah air untuk mensucikan diri, lalu dia bisa menggelar koran untuk sembahyang.
Pendangannya berhenti di suatu sudut, tepat dipinggir sebuah gedung.
Setelah yakin bahwa itu adalah sesuatu yang dia cari sepanjang dia berjalan, dia segera melangkahkan kakinya.

Jakarta, 12 September 2007

Filed under: Ceritera

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: