Kampoeng Pujangga

Ikon

Sarang Air Mata

ada seekor burung
kepalanya bermahkotakan perigi
dari sepotong bambu tua
mengajari rerumputan terbang
menyusun sarang air mata dengan tangannya.

dengan gergaji tajam di paruhnya
disambutlah pesta kelahiran anaknya
sambil menyanyikan lagu;
‘padamu negeri alamku sunyi’
di bawah bayang gerimis yang sengaja dihentikan
dengan seberkas waktu yang tergantung di huniannya.

matahari menjadi sabit kering
tempat kemarau menghentikan hujan,
hujan-hujan deras yang setiap hari
menjadi ketakutan tak terbagi.

dulu!
dulu sekali,
aku sempat menyaksikan burung-burung menangis
memohon do’a untuk keselamatan anaknya
di sangkar-sangkar para pemburu.

-dimana daun-daun menyembunyikan
tempat pengasingannya-

Madura, 2004-2006

Filed under: Sajak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: