Kampoeng Pujangga

Ikon

Sebilah Pisau Bermawar

Kapan aku harus bebas memetik Mawar-mawar harum. Di mana-mana, di taman-taman kota, di pekarangan rumah, dan di tempat-tempat lain kutemui Mawar-mawar selalu berduri belati. Tanganku seringkali tidak memiliki kebebasan untuk memetik Mawar itu dengan sempurna. Terkadang durinya melukai jari-jariku sehingga darah segar seringkali muncul dari lubang kecil hasil ukiran duri Mawar yang ingin ku petik. Kalau aku memetik mahkotanya saja, memang tanganku tidak mungkin terluka. Namun yang kulakukan tidak lebih hanya usaha yang sia-sia. Sehingga aku benci menyimpannya bersama bunga-bunga lainnya sebagai tanaman hias di ruang-ruang tamu ataupun meja belajarku. Dan lebih suka mendiamkannya hidup bersama tangkainya di taman-taman agar bisa selalu kurasakan keindahan yang selalu hadir bersama wanginya. Karena Mawar-mawar itu selalu berduri belati.

Pagi itu aku menerima telepon dari ayah. Tidak seperti biasanya ayah menghubungiku pagi-pagi sekali. Seingatku, hanya dua kali ayah menghubungiku semenjak aku berada di kos-kosan itu. Sudah lama aku tinggal di sana. Kira-kira tiga tahun yang lalu setamatnya dari SMP. Ibu menyuruhku untuk sekolah di kota saja. Karena rata-rataku dinilai cukup bagus. Ibu lebih dari seorang tuan, bila saja titahnya menunjukiku untuk menengadah ke langit atau bahkan menyatukan penglihatanku ke bumi, maka bukanlah menjadi hal yang tak mungkin aku lakukan. Aku tak tahu harus menjawab, ayah menyuruhku pulang secepatnya. Dia berkata kalau kalau perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Soalnya tidak akan mampu memanjat langit sebegitu tinggi ketika saat terjatuh. ‘‘wong wadon iku kodrate mung ing pawon, kasur lan sumur’‘ (perempuan itu hanya ditakdirkan untuk menetap di dapur, kasur dan sumur) ayah selalu membelenggu aku dengan kata-kata itu. Termasuk pagi itu, pas aku lama berbicara dengannya, ujung-ujungnya mengingatkanku ke masalalu.
Ayah orangnya keras. Kata-katanya menampar hati dan menjadikannya selaksa tanah kering lapuk akibat panas mentari. Kemarahannya selalu tampak dari pandangan matanya yang selalu menyinggahi muka. Sehingga saat itu pula aku akan merasa ciut menghadapinya. Dorongan untuk berontak tak sanggup kutumpahkan walau hatiku dibuatnya sembilu dengan sejuta ketakutan yang hadir bersama kata-katanya. Karena ia adalah ayahku. Seorang yang telah mengalirkan darahnya ke tubuhku.
‘‘Sedang kau hanya wanita. Sedikitlah mengerti. Toh nanti kalau suamimu kaya, kamu juga akan dilimpahi harta yang dimilikinya’‘
Ayah hanya memandang kehidupan dengan mata terpejam. Tidak memikirkan betapa aku sangat butuh lebih banyak pengetahuan. Selalu dianggap rendah semua keinginanku untuk meneruskan sekolah hingga perguruan tinggi. Dan aku merasa bahwa kehancuranku telah tiba. Sejuta lorong gelap menyelimuti kehidupanku. Dan di dalamnya kepekatan berebut menjadi irama-irama kepedihan membuntuti segala keterpurukanku.
Jejak-jejak putih kehidupnaku telah menjadi buram. Dan sesaat menjadikanku rapuh menjalani hidup. Padahal panjang sekali jalan yang harus ketelusuri. Bukan sekedar tahu menghitung angka dan menjadikan huruf-huruf menjadi aksara. Bukan. Tapi suara-suara yang tak senada selalu merapatkan diriku untuk segera mengakhiri kehidupan.
Tidak banyak yang tahu tentang kisahku. Hanya saja aku sekarang punya Bu Komariyah yang setia mendengar keluh kesahku selain ibu kandungku. Karena jarak telah memisahkanku dengan ibu. Dia adalah ibu kosku. Sayang sekali dia padaku, sehingga dianggapnya sebagai anak sendiri. Kadangkala aku diajari bagaimana harus menanam bunga. Bunga Mawar yang selalu berduri belati. Aku sangat takut kalau-kalau nantinya tanganku kembali terluka karenanya. Tapi aku sadar sebagai perempuan, bunga adalah lambang bagian hidupku, jadi dia membujukku untuk tidak takut pada bunga. Dan justru menyayanginya.
‘‘Mengapa bunga Mawar yang begitu eloknya harus ditakdirkan memiliki duri, Bu?’‘ Bu Komar tersenyum ketika aku bertanya tentang kehidupan Mawar. Ya, Mawar indah yang selalu menghadirkan wangi semerbak kepada siapa saja yang lewat di depannya. Mawar yang akan tetap di bangga-banggakan oleh kebanyakan orang meskipun sebagian menyebutnya dengan sebutan ‘‘bangkai’‘.
‘‘Ya, begitulah kehidupan. Terkadang menjejer beragam pertanyaan untuk kita jabarkan. Seperti Mawar yang kau tanyakan tadi. Mawar-mawar itu tak mau lepas dari tangkainya gara-gara tangan-tangan sebagian orang tidak bertanggung jawab memetiknya. Sehingga dia perlu melindungi dirinya dengan duri-duri. Begitu pula kamu. Kamu harus memiliki duri untuk melindungi dirimu. Jangan biarkan orang lain melukai keindahan yang ada padamu. Sehingga keharuman dan keindahanmu tidak akan pernah pudar sampai kamu bertakdir jatuh ke tanah’‘ Kemudian Bu Komariyah memasukkan tanah ke dalam pot-pot kecil yang terbuat dari kaleng-kaleng susu dan menyertakan setangkai Mawar ke dalamnya. Tanah itu ditekan sampai padat dan terlihat rata tanpa sedikitpun lekukan menyertainya.
Aku terlanjur mamanggilnya ibu. Ruh bidadari seakan menjelma di dadanya. Bukan karena dia berparas cantik dan tampak awet muda. Namun pribadinya lebih meyakinkan bahwa dia bukanlah wanita sembarangan. Tutur katanya halus dan mengandung kedamaian saat kudengarkan. Seperti ada barisan-barisan do’‘a yang menghujani setiap ucapannya. Lanskap sunyi, irama indah, cahaya permata, semua ada padanya. Tanpa bisa kunyatakan apakan ia juga seperti Mawar yang memiliki duri. Sangat berbeda jauh dengan ayah yang lebih tepatnya kugambarkan sebagai karang kukuh di tengah lautan. Kengerian yang selalu ketemukan, setiap kali aku berhadapan dengannya. Namun haruskah aku membencinya sedang ia adalah makhluk yang mengalirkan darahnya beredar di dalam tubuhku.
Bu Komariyah menghampiriku yang sedang menyatukan kesendirian bersama indahnya bunga-bunga yang tertanam megah di pekarangan rumahnya. Membawakanku segelas susu dan beberapa biji gorengan. ‘‘Anakku, apakah kamu menemukan kedamaian dengan berdiam diri di antara bunga-bunga itu?’‘
Penat. Tak tahu harus dengan apa kudiamkan kata-kata. Semua kata indah yang kumiliki telah hangus oleh kesedihan karena memikirkan ayahku yang memintaku untuk cepat kembali dan pulang membantu pekerjaan ibu di rumah. Sedangkan aku masih ingin menyelesaikan sekolahku sesudah yudisium kelulusanku dibacakan hari senin yang lalu. Aku ingin menemukan keindahan dan memancarkannya seperti Mawar-mawar yang ada di sekelilingku. Tapi tuntutan yang harus kuhadapi sangatlah berat bila harus meninggalkan orang tuaku yang kurang setuju dengan keinginanku.
‘‘Tidak bu, bukan hanya kedamaian yang kutemukan di sini. Tapi aku bisa lebih mengenal kehidupan yang tidak akan aku temukan di tempat lain. Kehidupan yang serba menyatakan sebab dan akibat. Seperti sebab Mawar-mawar itu berduri’‘. Aku memegang tangan Bu Komariyah yang menjulur ke pundakku. Kemudian mengarahkan tatapan mataku ke langit.
‘‘Manusia hidup itu harus ada yang dicapai sebagai alasan mengapa dia hidup. Bukan hanya meninggalkan bekas-bekas tak berarti di bumi tempat pijaknya. Setidaknya dia harus mampu meninggalkan sejarah bagi orang-orang yang hidup setelahnya. Karena Allah menciptakan manusia sebagai seorang holifah di muka bumi ini. Anakku, tidakkah kau bercermin kepada Nabi yang diutus oleh Allah untuk menyelaraskan kehidupan umatnya? Jadi di manapun dan dari rahim siapapun kamu dilahirkan harus tetap memiliki suatu tekad untuk mengisi kehidupanmu dengan hal-hal yang mampu menghadirkanmu sebagai manusia sempurna. Tidak lebih dan tidak kurang’‘
Ada mawar jatuh di hadapanku. Mendetikkan hatiku untuk memungutnya.
‘‘Seperti inilah kehidupanku saat ini, Bu. Aku tidak dapat menghadirkan keindahan dan karena aku telah ditakdirkan hidup bersama cacing-cacing tanah dan ribuan belatung yang siap menguraikan jasadku. Kematian adalah kata yang tepat untuk memaknai kehidupanku. Tangkai tempatku bertumpu telah lenyap dan menjadikanku asing di antara bunga-bunga indah di taman ini. Adakah orang yang masih peduli dengan nasibku seperti kepedulianku pada mawar ini?’‘ Seketika bumi berhenti berputar dan memberikan sedikit jeda pada Bu Komariyah untuk menghapus sedikit bening yang keluar dari sudut matanya.
Bukan kehidupan yang membuatku menyesal, akan tetapi kelahiranku yang lebih aku sesalkan. Mengapa aku harus dilahirkan di tengah-tengah orang-orang yang berwatak keras seperti ayah? Namun aku tidak rela meninggalkan ibu sendirian di rumah. Dia sangat sayang kepadaku dan takut akan kehilanganku. Apakah ayah juga sama seperti ibu dan takut kehilanganku?
Pohon-pohon di depan rumah Bu Komariyah menyiratkan sejumlah kenangan. Hari ini aku harus pulang ke rumah karena ayah selalu mendesakku ketika berbicara di telepon pagi itu. Tentu aku sangat merindukan tanah halaman, namun aku cukup bersedih bila harus berpisah dengan Bu Komariyah dan bunga-bunga yang ada di pekarangan rumahnya. Tak lagi akan kutemui tutur kata yang mampu mendamaikan hatiku. Sudut-sudut kebahagiaan yang sementara kumiliki bersamanya akan segera berakhir, walau bukan untuk yang terakhir. Sementara aku harus kembali pada kehidupanku yang dulu. Kehidupan yang dihantui dengan berbagai keresahan. Kehidupanku bersama ayah, ibu dan halaman rumahku.
Di rumah, ibu menungguku dengan harapan aku sudah menjadi seorang yang lebih dewasa dan mampu menyikapi kehidupan. Sesampainya di pintu, pelukan ibu pertamakali bagaikan sebuah air yang mencuat ke permukaan padang pasir. Sudah lama aku meninggalkannya. Tentulah kerinduanku menundukkan matahari yang menyinari halaman rumah. Meruntuhkan kesedihan yang timbul akibat perpisahan yang cukup lama.
Ayah masih tetap seperti dulu. Aku jadi merasa takut melihat wajah ayah walaupun aku tahu bahwa ia sangat menyayangiku. Buktinya ia kemudian mendekatiku setelah ibu selesai memelukku. Dan ayah mencium keningku dengan senang sambil berucap ‘‘selamat datang malaikat kecilku’‘ sahutnya, kemudian kembali bertutur ‘‘kini ayah akan sangat bangga dengan kehadiranmu mewarnai rumah yang telah lama pudar warnanya’‘
Tak ada yang bisa dilihat di halaman rumah. Pohon mangga yang dulu ditanam Eyang lenyap entah ke mana. Dan bunga-bunga Bugenfil, Melati juga Mawar tak lagi menghiasi. Mungkin ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan lupa menyiram bunga-bunga itu. Sedangkan ibu harus pergi ke pasar pagi-pagi supaya para pelanggannya bisa lebih leluasa membeli dagangannya. Aku tidak terlalu menyalahkan mereka. Karena memang tidak ada lagi perempuan sepertiku di rumah itu setelah kepergianku.
‘‘Ke mana bunga-bunga itu, Bu?’‘ Tanyaku. ‘‘Bunga-bunga yang dulu aku peroleh di pinggir-pinggir jalan saat pulang sekolah dan kemudian aku tanam di halaman dan pot-pot mini itu?’‘
‘‘Terkikis waktu Indri, bunga-bunga itu kehilangan kamu dan mereka memilih menguburkan diri mereka ke bumi’‘
‘‘Memangnya tidak ada yang menyiram, ya!’‘ aku menyela tipis. ‘‘Ibu bisa kan meluangkan sedikit waktu untuk mengambil air dari sumur kemudian menyiram bunga-bunga itu agar tidak mati’‘ ibu menangis.
‘‘Semenjak kamu pergi, ibu tidak lagi terlalu memikirkan bunga-bunga itu karena terlalu memikirkan keadaanmu di sana. Lama. Lama sekali sehingga di hati ibu seperti ada belati raksasa yang mengkoyak-koyakkan tubuh dan menumbuhinya dengan beragam kematian. Kematian tentang waktu. Kematian jarak. Dan bahkan ibu seringkali merasa lelah karena harus terus bertengkar dengan ayahmu’‘. Sahut ibu. ‘‘Dan ayahmu meminta ibu untuk segera menyuruhmu pulang, sedangkan kamu masih harus belajar. Dan terakhir, satu minggu yang lalu setelah kamu mengabarkan hal kelulusanmu, ibu memberitahukan semuanya kepada ayah. Apa katanya? Dia meminta ibu untuk menyuruhmu kembali ke rumah ini. Tapi ibu tidak tega, karena kamu pernah berkata pada ibu akan meneruskan sekolahmu ke perguruan tinggi di kota itu pula. Dan ayahmu. Dia memaksa dan terus memaksa ‘‘Biar, aku sendiri yang akan menyuruh Indri pulang’‘. Katanya. Dan tentu kemudian kamu tahu pagi itu telepon di tempat kosmu berdering. Dan kamu terkejut ketika ayahmu menyuruhmu untuk segera pulang. Itulah kemauan ayahmu yang keras. Ibu tidak bisa mengelak. Karena terlalu sering bagi ibu untuk bertengkar mulut dengan ayahmu’‘
Hening rasa diriku mendengar pengakuan dari ibu tentang ayah. Sebenarnya apa yang diharapkan. Sampai-sampai mengorbankan cita-citaku.
‘‘Indri, coba perhatikan ke sini’‘ pagi-pagi sekali ayah datang ke kamarku sambil membawa selembar foto kemudian menunjukkannya padaku.
‘‘Kau tahu siapa ini?’‘ Tanya ayah. ‘‘Ini adalah Karim anak Pak Sigit yang dulu selalu bersamamu setiap berangkat ke sekolah. Kau masih ingat?’‘ Ayah memaksaku menguak semua memori masa kecilku. Sehingga aku teringat bayangan sesosok tubuh kecil menggunakan seragam merah putih berjalan bersama segerombolan anak-anak yang memakai seragam yang sama. Ya. Itu adalah bayanganku. Kemudian anak-anak itu, aku menyaksikan sketsa masing-masing wajah mereka. Menggilir satu persatu. Dan akhirnya kutemukan siapa yang ayah maksud. Karim namanya. Anak salah seorang saudagar kaya bernama Pak Sigit di desaku.
‘‘Ya. Memangnya ada apa dengan dia ayah. Indri dengar sekarang dia lagi sekolah. Di mana itu ayah?’‘
‘‘Tidak, dia sekarang ada di rumah. Dipulangkan oleh kepala sekolahnya karena pernah selama sebulan dia membolos’‘. Aku sedikit heran dengan sikap ayah yang menumbuhkan sikap skeptis terhadap diriku dengan semua tingkahnya. ‘‘Sebulan yang lalu, Pak Sigit berkunjung kemari bersama istrinya. Mereka menemui ayah dan ibu. Mereka menyampaikan maksud mereka untuk melamarmu untuk anaknya, Karim. Ibumu belum menjawab maksud mereka. Karena ibumu ingin terlebih dahulu meminta persetujuan dari kamu’‘
Langit seakan jungkir balik. Kiamat yang aku rasakan saat mendengar perkataan ayah. Mengapa dia tega melakukan semua ini padaku. Padahal aku masih belum pantas untuk menjadi seorang ibu yang harus mengasuh anak-anakku dengan pengetahuan yang baru kusentuh ujungnya saja.
‘‘Akankah ayah ingin melihatku bahagia?’‘Tanyaku, kemudian dia menjawab ‘‘Ya, tentu saja. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya hidup bahagia’‘. Kemudian aku sedikit menarik nafas memberikan sedikit waktu untuk membuat suasana menjadi tenang dan damai.
‘‘Kalau memang jawaban ayah seperti itu, maka perkenankanlah aku untuk meneruskan sekolahku ke perguruan tinggi. Tentu ayah akan melihat aku bahagia’‘ aku memberanikan diri untuk kembali mengingatkan ayah akan keinginanku. Namun ayah kembali menatapku dengan sorot penuh kemarahan seperti hendak memberikan pelajaran kepadaku.
‘‘Inikah balasan yang pantas kaulakukan kepada ayah. Apakah selama ini kau masih belum puas dengan sekolah yang kau harapkan itu. Berapa kali ayah bilang, perempuan itu tidak pantas sekolah tinggi-tinggi, kalau jatuh nantinya tidak bisa naik lagi. Karim itu anak orang kaya, Indri. Jadi tidak ada alasan bagi kamu untuk meneruskan sekolahmu supaya kamu bisa bekerja. Kamu akan hidup bahagia dengannya. Percayalah pada ayah’‘ Ayah keluar dari kamarku setelah sebelumnya berkata ‘‘mungkin ayah perlu mengingatkanmu kembali bahwa kodrat seorang perempuan itu hanyalah melayani suami. Ruang lingkupnya tidak lebih dari dapur, kasur dan sumur’‘
Tubuhku menggigil. Kedua tangan kusatukan erat dan menjatuhkan tangisanku di atas bantal. Dari belakang kurasakan tangan ibu yang memelukku.
Ibu menyapaku ‘‘Sudahlah, air matamu tidak akan mampu menyelesaikan semuanya’‘ Kemudian tanganku memisahkan kedua tanganku yang menyatu. ‘‘Lebih baik sekarang kamu cepat membersihkan muka. Lalu ibu akan membantumu menanam bunga-bunga yang kau minta dari tetangga sebelah’‘ Mendengar kata ‘‘BUNGA’‘ seperti menghadirkanku pada dunia baru. Dunia yang penuh dengan kedamaian.
Sore itu, ibu membantuku menanam beragam bunga di halaman. Bunga-bunga itu kelihatan segar setelah aku menyatukan akarnya dengan tanah. Apalagi setelah ibu membawakan segayung air sumur dan menyiramkannya ke seluruh permukaannya. Dari tangkai-tangkai berduri, daun-daunnya sampai bunga-bunga yang masih menguncup ataupun yang sudah mulai bermekaran.
‘‘Indah ya, Bu!’‘ Hatiku terkuncang saat mengucapkan kata-kata itu pada ibu. ‘‘Aku jadi teringat pada Bu Komariyah, ibu kosku yang selalu mengajariku bagaimana menanam bunga-bunga dan memasukkannya ke dalam pot-pot dari kaleng susu setelah dilubangi bagian bawahnya sebagai jalan aliran air saat bunga itu disiram. Aku banyak belajar tentang kehidupan darinya. Apakah sekarang dia menanam bunga seperti yang aku lakukan saat ini, Bu? Aku sangat rindu kepadanya. Kapan ibu memperkenankan aku untuk mengunjunginya kembali’‘
‘‘Indri, ibu yakin Bu Komariyah selalu berdo’‘a untuk kamu seperti yang selalu ibu lakukan’‘
‘‘Memangnya ibu selalu mendo’‘akan aku’‘
‘‘Ibu ingin melihat kamu tersenyum setiap saat dan memadukan senyummu dengan keharumanmu seperti Mawar-mawar dan bunga lainnya yang ada di depanmu’‘
Dari jauh ayah menatap aku dan ibu yang sedang berdiri menatap bunga-bunga yang baru saja kami tanam, langkahnya pelan tapi pasti mendekati kami berdua. Dan hanya sebentar saja kemudian ayah membuat suasana yang tadinya tenang menjadi riuh oleh suara yang timbul dari mulutnya.
‘‘Kalian berdua, anak dan ibu sama saja. Untuk apa sih kalian berlama-lama berdiri di sini. Apakah kalian kira dengan berdiri di sini terus menerus piring-piring kotor itu akan bersih dengan sendirinya’‘
Kemudian ibu menuju ke dapur dan membersihkan semua piring kotor. Dan aku membersihkan semua kotoran tanah-tanah yang kugunakan untuk menanam bunga di halaman. Ketika aku memungut sampah dari daun-daun dan ranting-ranting berduri itu, tanganku tergores oleh salah satu durinya. Tapi bukan kepedihan yang kurasakan, karena yang paling pedih bagi diriku adalah keinginanku yang tidak pernah mendapat restu dari ayah.
Dan Mawar-mawar itu akan tetap berduri, sehingga aku tidak pernah bebas memetiknya dengan sempurna. Namun sore ini sempurna sudah kedamaian memenuhi halamanku walau kesempurnaannya belum memenuhi tekanan bathinku.

4 Mei 2005

Filed under: Ceritera

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: