Kampoeng Pujangga

Ikon

Taufiq Ismail: Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit

Majalah sastra Horison menyelenggarakan gawe besar memperingati 55 tahun Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia. Berawal dari Rabu (14/5), ditandai dengan peluncuran empat jilid buku berjudul “Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit”.
Acara yang berlangsung di Aula Mahkamah Konstitusi, Jakarta, itu mendapat sambutan luas berbagai kalangan. Apalagi, hasil penjualan seluruh buku akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Puisi, yang digagas Taufiq Ismail.
“Taufik Ismail bukan memperingati usianya, tapi perbuatannya. Sebab, hidup itu perbuatan,” kata Fadli Zon Ketua Panitia Pelaksana Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia.
Peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku oleh Jamal D Rahman dari Penerbit majalah sastra Horison kepada Taufiq Ismail. Kemudian sastrawan kelahiran Bukittinggi tersebut menyerahkan satu set buku ke berbagai kalangan, termasuk kepada generasi muda.
Sebelumnya, disampaikan pidato kebudayaan oleh Anies Baswedan tentang Generasi Taufiq Ismail dan Transformasi Struktural Masyarakat. “Taufiq Ismail memang menembus batas bangsa-bangsa. Tapi, tampaknya rumah Taufiq Ismail itu memang Indonesia. Dia sangat peduli dan mencintai,” kata Anies dalam orasinya.
Dalam rentetan kegiatan acara, Sabtu (17/5), juga digelar acara seminar masional “Taufiq Ismail, 55 tahun dalam sastra Indonesia”. Prof Dr Suminto A Sayuti, guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut mengatakan, Taufiq Ismail adalah satu-satunya sastrawan yang banyak menyimpan perhatian untuk Indonesia.
Dalam sambutannya, Taufiq Ismail mengemukakan bahwa dirinya adalah setitik debu di tengah sahara Indonesia. “…kecil sekali. Tak pernah menggapai ke langit” jelasnya.
Selain menerbitkan 4 jilid buku, Majalah Horison juga menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Taufiq Ismail di Mata Mahasiswa’ yang merupakan kumpulan 14 tulisan para mahasiswa yang masuk sebagai nominasi dalam lomba menulis esai tentang 55 tahun Taufiq Ismail.
Ketika membacakan nama-nama para pemenang, Maman S Mahayana, juri lomba tersebut menegaskan, ternyata mahasiswa Indonesia tidak hanya pandai berdemo, seperti anggapan orang selama ini. Buktinya, para mahasiswa dengan beragam mengulas kepenyairan Taufiq Ismail dari berbagai sisi.
Puncak acara tersebut adalah ‘Seminar Internasional dan Baca Puisi’ yang akan diselenggarakan di studio TVRI, Sumatera Barat, Rabu (28/5). (ali ibnu anwar)

Filed under: Catatan Mungil

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: