Kampoeng Pujangga

Ikon

Tempat yang Kesekian

selayang dzikir yang terlepas dari dasar rusukku
semakin runcing menusuk malam-malam baru.
kata-kata lebih dari sekedar pengakuan
mengasah termenung di saat menyuci suci.

di langit, tempat yang kesekian
jejak-jejak penyesalan terus melambai
seakan paham arti dari sebuah menunggu kematian.
tanah berdebu selalu menggoreskan hangat,
di jejak biru kubaca setengah kalimat
setelah aku tahu tangan-Mu menjelma pasir setitik di pucuk alif
berwujud sebentang air mata.

malam terjurus ke segi-segi kegelapan,
nama-Mu terus kekal
dan ada di setiap garis lampu
yang cahayanya mendekatkanku
ke teras-teras tawakkal.

waktu semakin perkasa
mengisi dinding-dinding malam
dengan luapan kedinginan.
maka saat itulah
aku semakin paham
bahwa aku tak akan pernah selesai
mencari nama-Mu yang semakin mengkristal
di laut dan daratan.

-siapakah yang mengusik batinku
di ruang rimbun bebatuan?-

Madura, 2004-2006

Filed under: Sajak

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: