Kampoeng Pujangga

Ikon

Soeman Hs

Suman Hasibuan atau Suman Hs. Lahir di Bengkalis 1904. Terkenal gaya bahasanya yang lincah dan ringan. Cerita-ceritanya mirip detektif diantaranya Kasih Tak Terlarai(1929), Percobaan Setia (1931) dan Mencahari Pencuri Anak Perawan (1932). Habib St Maharadja berjudul ‘Nasib’ yang mengisahkan tentang seorang pemuda Minang Kabau yang mengembara ke Eropa dan menikah dengan gadis Belanda.
Suman Hs di antara Sastrawan Riau
Riau memiliki sejumlah pengarang yang meraih puncak-puncak capaian estetika dalam sastra. Sebut saja Raja Ali Haji, pakar linguistik penyusun tata Bahasa Melayu pertama yang sekaligus juga sastrawan tangguh penggubah Gurindam 12 yang masyhur itu. Begitu juga Sutardji Calzoum Bachri dengan kredonya menepis beban makna kata. Hampir bersamaan dengan Sutardji, juga ada Ibrahim Sattah yang menukilkan karyanya dari permainan kanak-kanak dan berakhir dengan ketertegunan, keterpesonaan, melihat sesuatu dengan kebencian dan berakhir dengan kecintaan yang maha dalam. Ada Ediruslan Pe Amanriza dengan bahasa yang sederhana sehingga setiap untaian kalimat dalam novel-novelnya tampak bening seterang siang. Ada pula Taufik Ikram Jamil dengan kemelayuannya yang kental, yang oleh Hasan Junus menyebut kehadirannya menjadi tonggak tanda yang penting terutama karya-karya yang mula-mula dipandang aneh, ciri khas orang-orang di garda depan. Dan Soeman Hs yang oleh UU Hamidy disebut sebagai salah satu tiang mocu atau pilar agung yang paling kokoh dalam kreativitas Budaya Melayu, memperlihatkan kekhasannya yang lain pula, yaitu kemampuannya masuk menukik tak hanya sebatas ceruk-lekuk tradisi dan adat resam Melayu, akan tetapi jauh menyelam ke dasar hakikat kehidupan Melayu (Riau) sebagai sari pati dari pergulatan hidupnya yang ditakdirkan lahir dan besar di antara bau apak asin laut dan wangi bumi Melayu. Dan itu kelak menjadi “warna” yang jelas dalam karya-karya Soeman Hs, baik cerita romannya maupun cerpennya.
Detektif Pencubit Urat Gelak
Soeman Hs menempati anjungan tersendiri di hamparan punca-punca kesusastraan Indonesia. Pertama, meskipun dia masih menggunakan Bahasa Melayu yang lama, namun pandangannya tentang bahasa telah jauh berbeda dari pengarang sebelumnya, dengan salah satu cirinya lebih bebas berekpresi menggunakan bahasa. Itulah sebabnya dia tidak layak digolongkan ke dalam baris pengarang lama. Dengan demikian dia dikelompokkan ke dalam barisan sastrawan Indonesia, modern. Kedua, Soeman Hs dianggap sebagai pelopor penulisan cerita detektif berbahasa Indonesia moderen dan pelopor cerita humor. Dikatakan berbahasa Indonesia, karena sebelum kemunculan cerita-cerita Soman Hs, di Indonesia menggejala penerjemahan cerita detektif dan cerita petualangan dari beberapa karya pengarang Barat. Cerita seperti Robin Hood dan Oliver Twist sekedar menyebut dua contoh cerita yang cukup dikenal di Indonesia.
Dalam kondisi perkembangan cerita terjemahan demikianlah karya-karya Soeman Hs kemudian muncul, membawa warna tersendiri, warna yang berbeda dari karya-karya pengarang sebelumnya. Jadi roman percintaan, kisah asyik-maksyuk dua sejoli yang diterpa badai kasmaran yang dipoles dengan gaya detektif dan dibumbui kejenakaan, memberi laluan bagi karya-karya Soeman Hs untuk dihargai dan dinikmati. Padahal masa sebelumnya, dan bahkan ada yang bersamaan dengan kehadiran karya-karya Soeman, masih tetap menggunakan teknik penceritaan yang tak jauh berbeda dengan roman yang cukup terkenal seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan dan sebagainya itu.
Karya pertamanya Kasih Tak Terlerai (hanya Pamusuk Eneste satu-satunya baru yang menulisnya “Terlerai”, bukan “Terlarai” sebagaimana yang disebut oleh Balai Pustaka) diterbitkan pertama kali tahun 1929 (Balai Pustaka menyebutnya tahun 1930), kemudian disusul Percobaan Setia (1931), Mencari Pencuri Anak Perawan (1932), Kasih Tersesat (1932), Kawan Bergelut (1938), dan Tebusan Darah (1939), bercerita tentang percintaan, kesetiaan, pengkhianatan, bahkan juga adat dan agama beraroma detektif dan nuansa kejenakaan. Entahlah dalam sejumlah puisinya yang dimuat dalam Sutan Takdir Alisyahbana (ed); Puisi Baru (1946).
Ketiga, selain sebagai pelopor cerita detektif Indonesia modern dan cerita humor tersebut, pengamat lain yaitu Pamusuk Eneste menyebutkan bahwa Soeman lazim dianggap sebagai salah seorang pemula cerpen dalam kesusastraan Indonesia modern di samping “guru”-nya M Kasim. Tentang M Kasim ini, secara jujur Suman Hs pernah mengatakan, “Karena membaca Teman Duduk, saya kemudian menulis Kawan Bergelut”. Sebuah pengakuan yang jarang terjadi di masa sekarang, bahkan tidak jarang terjadi justeru sebaliknya. Ingatlah beberapa kasus plagiat dalam rentang masa kepengarangan di Riau.
Sebagai pelopor cerita detektif, kita bisa cermati hampir seluruh karya Soeman memang penuh dengan muatan detektif. Saya katakan “hampir” karena memang belum seluruh karya Soeman saya baca. Dalam Kasih Tak Terlerai misalnya, upaya Taram dan Sitti Nurhaida kawin lari ke Singapura dan kemudian penyamaran Taram menjadi Syekh Wahab ketika hendak mempersunting kembali isterinya yang sudah lepas dari pelupuk matanya itu, jelas mengindikasikan kerja seorang detektif.
Sebagai penulis cerita humor, Suman Hs sangat piawai memasukkan muatan humor yang menggelitik dalam ceritanya. Dalam Percobaan Setia misalnya, sebagaimana yang diuraikan oleh UU Hamidy dalam bukunya Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, bahwa dalam roman Percobaan Setia pengarang mendedahkan bagaimana kejenakaan menjadi suatu bagian dalam pergaulan sosial orang Melayu. Dalam suatu perjalanan dari Pulau Pinang ke Jeddah, tokoh roman itu (Syamsuddin) telah berlagak dan berpura-pura menjadi dukun Melayu dengan mengatakan kepada dokter orang kulit putih di kapal itu bahwa ketela yang dijualnya berguna untuk “mengeluarkan angin”.
Cerita-cerita yang mencubit urat gelak itu, selain di dalam roman-romannya, akan lebih banyak dan kental kita temukan saat membaca kumpulan cerpennya Kawan Bergelut. Simaklah “Selimut Bertuah”, cerita tentang seorang bapak yang mengendap-endap membatalkan puasa dari pandangan isterinya. Sementara di bilik tempatnya bersembunyi, anaknya yang terbaring menahan haus dan lapar puasa dengan leluasa mengintai kelakukan bapaknya melalui celah lobang kain yang terbakar akibat api rokok. Begitu juga perdebatan anak India dengan Melayu tentang daun jelatang, kayu yang seluruh pokoknya yang jika tersentuh kulit akan menimbulkan rasa gatal luar biasa, termasuk daunnya. Anak Melayu menyebut daun itu “daun yang dibawa nabi dari surga” yang oleh anak India disebutnya “aun abi surga na datang”. Kesal dan tak percaya pada ucapan kawannya, anak India itu langsung menggosok-gosokkan daun tersebut ke pantatnya sebagai sikap ingin melecehkan daun itu.
Selain sebagai pelopor cerita detektif, cerita humor dan pemula cerpen Indonesia, satu hal yang perlu dan patut dicatat adalah bahwa Soeman Hs juga pelopor cerita mini Indonesia. Sebutan sebagai salah seorang pemula cerpen Indonesia modern akan menjadi kabur jika kita sandingkan karya Soeman (dalam Kawan Bergelut tentunya) dengan apa yang disebut cerpen saat ini. Bukankah Sapardi Djoko Damono pernah memunculkan istilah cerita mini (cermin), yang secara sederhana perbedaannya dengan cerpen terletak pada panjang-pendeknya. Cerpen lebih panjang dari cerita mini. Walaupun dalam ilmu sastra istilah itu belum diakui, seperti tidak adanya beda antara novel dan roman, namun karena istilah itu sudah terlanjur muncul dan sudah menggejala di tengah publik sastra, minimal perlu kesepakatan bersama untuk memaknainya sebagai konsep yang konkrit dan jelas. Dan jika memang cermin diterima oleh khalayak sastra kita, tokoh yang pertama yang harus disebut untuk penulis genre sastra ini adalah Soeman Hs.
Mencari “Pencuri” Karya-karya Soeman
Dalam sebuah wawancara, di sisa usianya Soeman pernah mengeluhkan mengapa karya-karyanya tidak lagi dicetak sehingga banyak orang yang tidak lagi tahu buku-bukunya. “Padahal, dibandingkan dengan novel-novel sekarang, secara bahasa karya saya masih bisa dipersandingkan….” ucapnya.
Paling tidak kelanjutan dari kegelisahan Soeman itu, memunculkan beberapa pertanyaan. Mengapa misalnya Sengsara Membawa Nikmat (1928), Siti Nurbaya (1922), dan Katak Hendak Menjadi Lembu (1935) masih dengan mudah kita temukan di toko-toko buku? Ke mana hilangnya karya-karya Soeman? Siapa “pencuri” karya-karya yang pernah mengharumkan nama Riau di pentas kesusastraan Indonesia itu? Padahal karya-karya itu lebih tua atau setidaknya semasa kelahirannya dengan karya-karya Soeman Hs. Malah dua buku yang diminati Soeman adalah Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Teman Duduk karya Muhammad Kasim, yang terakhir ini sekaligus diakui sebagai kumpulan cerita pendek pertama dalam sastra Indonesia modern.

———————
Karya-karya:

* Kasih Ta’ Terlarai (1961)
* Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
* Pertjobaan Setia (1940)

Filed under: Profil Sastrawan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: