Kampoeng Pujangga

Ikon

M. Balfas

M.Balfas lahir di Krukut, Jakarta, pada tanggal 25 Desember 1922. Sebagai anak Betawi, ia merasa kecewa karena harus kehilangan corak asli kehidupan masyarakatnya. Menurutnya, masyarakat Jakarta sudah jauh berbeda dengan masyarakat Betawi yang dikenalnya sewaktu kecil dulu. “Inilah ma-sayarakat modern, masyarakat manusia merdeka. Celaka! Aku kehilangan kemerdekaanku sekarang dan perasaanku yang begitu banyak bersifat diriku dikalahkan oleh kesadaran ideologi yang membikin aku kembali jadi manusia budak. Seperti lingkaran puyuh: dari daerah kampungan ke alam yang lebih besar dan dari sini aku buat lagi kampungku yang kecil bermerek ideologi, ‘ akunya (Balfas, 1955). Pengakuan itu, tentu saja dapat lebih meyakinkan orang bahwa Muhammad Balfas sangat akrab dengan kehidupan Jakarta, kampung kelahirannya.
Menurut Jassin (1954) dan Rosidi (1969), hampir semua ketragisan yang tertukis dalam cerita-cerita Balfas sebenarnya merupakan gambaran dirinya. Artinya, dalam menulis, Balfas selalu mengidentifikasi dirinya ke dalam diri tokoh-tokoh ciptaannya. Jika pendapat itu benar, dapatlah disimpulkan bahwa Balfas di masa kecilnya hidup di lingkungan masyarakat yang terhimpit.
Semasa hidupnya Balfas pernah tinggal di Kualalumpur, Malaysia. Karena merasa tidak mendapatkan tempat, ia meninggalkan Malaysia dan hijrah ke Australia. Pada tahun 1975, saat berkunjung ke Jakarta, penyakit asma yang dideritanya kambuh. Setelah dirawat beberapa lama. akhirnya pada tanggal 5 Juni 1975 ia meninggal dunia.
Tidak didapat informasi yang lengkap mengenai latar belakang pendidikan M. Balfas. Kapan dan di mana ia bersekolah di pendidikan dasar dan lanjutan pertamanya tidak diketahui secara pasti. Yang jelas ia menamatkan MULO (setingkat SLTA) pada tahun 1940. Konon, ia tidak melanjutkan sekolah, tetapi langsung bekerja.
M. Balfas pertama kali bekerja sebagai pegawai pada Ekonomishe Zaken. Pekerjaan itu dijalaninya selama tiga tahun (1940-4943). Pada tahun 1946–1947 Ia menjadi kepala redaksi majalah Masyarakat. Pengalamannya sebagai wartawan ini banyak mewarnai karya pertamanya, Lingkaran-lingkaran Retak.
Pada tahun 1953, bersama dengan Sudjati S.A., M. Balfas mendirikan majalah Kisah, sebuah majalah yag khusus menerbitkan cerita pendek. Pada majalah tersebut, M. Balfas (bersama dengan H.B. Jassin dan Idrus) menjadi redaktur selama empat tahun, yakni hingga majalah tersebut berhenti terbit pada tahun 1956.
Pada tahun 1961, bersama dengan H.B. Jassin, M. Balfas menerbitkan majalah baru, yang diberi nama Sastra. Majalah ini memiliki garis kebijakan yang persis sama dengan Kisah. Namun, pekerjaan sebagai redaktur itu pun ia tinggalkan karena M. Balfas merantau ke Kuala Lumpur, untuk bekerja.
Karena tidak betah hagi tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia, ia hiijrah ke Australia. “Aku sudah muak di sini karena harus merendahkan diri saja.” , demikian akunya kepada H.B. Jassin (dalam surat pribadinya kepada Jassin yang ditulisnya di Kuala Lumpur pada tanggal 19 September 1966). Di Australia ia mendapat pekerjaan, mengajar di Universitas Sydney. Statusnya sebagai dosen tersebut dijalaninya sejak tahun 1967 hingga akhir hayatnya.
Dalam sejarah sastra Indonesia, M. Balfas digolongkan sebagai salah seorang pengarang prosa tahap kedua dalam Angkatan ‘45, selain Barus Siregar, Rusman Sutiasumanga, dan Aoh Karta Hadimadja (Teeuw, 1980). Cerpen-cerpennya, sebelum dikumpulkan dalam Lingkaran-Lingkaran Retak, pernah dimuat dalam berbagai majalah. Dua dia antaranya, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan dimuat dalam majalah Orientatie (Jassin, 1954).
Dalam karya-karyanya, Balfas banyak bercerita tentang keadaan di sekitarnya, sebuah dunia yang benar-benar diakrabinya. Dalam cerpen “Anak Revolusi”, “, misalnya, ia secara berterus terang mengakui bahwa tokoh Ama adalah teman bermainnya waktu kecil dulu: salah seorang anak yang sudah harus membantu orang tuanya mencari nafkah sehingga menjadi anak yang “matang” sebelum waktunya. Begitu pula dalam “Rumah di Sebelah”. Balfas pun secara terang-terangan melukiskan sifat-sifat dan keadaan kampung halamannya sewaktu ia masih kecil dulu, yaitu kampung Krukut.

——————

Karya-karyanya:

A. Cerita Pendek

(1) Lingkaran-Lingkaran Retak (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1952
(2) “Orang-orang Penting.” dalam Star Weekly, No. 610, Th. XII, 7 September 1957.
(3) “Dosa Tak Berampun” (cerpen) dalam Lenita, No. 11, Th. 1, November 1951
(4) “Kampung Tjawang” (cerpen) dalam Orientatie, No. 44, Januari–Juni 1952

B. Novel

(1) Retak (roman). 1964.
(2) “Si Gomar” (roman). tidak terselesaikan

C. Drama

1) Tamu Malam (sandiwara radio). Jakarta: RRI, 1957

D. Cerita Anak

1) Suling Emas. Jakarta: Djambatan, 1956
2) Anak-anak Kampung Jambu (cerita anak). Jakarta: Djambatan, 1960

E. Biografi

Dr. Tjipto Man goenkoesoemo Demokrat Sedjati (Biografi), Jakarta/Amsterdam: Djambatan, 1952.

Filed under: Profil Sastrawan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: