Kampoeng Pujangga

Ikon

Nugroho Notosusanto

Nugroho Notosusanto, dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah 15 Juli 1931, dan meninggal di Jakarta, 2 Juni 1985. Karya-karya sastrawan dan sejarawan yang pernah menjabat Rektor Universitas Indonesia (1982-85) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1983-85) ini antara lain: Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayang (1961), Hijau Tanahku Hijau Bajuku (1963), Norma-norma dasar Penelitian Sejarah Kontemporer (1978), Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang (1979), Sejarah dan Sejarawan, Tercapainya Konsesus Nasional 1966-1969 (1985), Sejarah Nasional Indonesa I-IV (bersama Marwati Djoened Poesponegoro), dan sejumlah karya terjemahan.
Adalah Nugroho Notosusanto, seorang ahli sejarah era orde baru yang menggagas didirikannya sebuah museum untuk mengabadikan peran TNI dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ahli sejarah bergelar Profesor Doktor itu memang punya hubungan yang erat dengan TNI, ia pernah menjabat Kepala Sejarah ABRI, Pengajar SESKO ABRI, juga pengajar pada Lemhanas.
Bangunan yang dianggap paling pantas untuk keperluan ini adalah Wisma Yaso, di Jl. Gatot Soebroto, Jakarta Selatan, yang sebelumnya merupakan kediaman Ratnasari Dewi, salah satu istri Presiden Soekarno. Bangunan yang besar di atas lahan seluas kurang lebih 5,6 hektar dianggap memadai untuk dijadikan sebuah museum militer. Belum lagi letaknya yang amat strategis di pinggir jalan protokol.
Maka pada 5 Oktober 1972, bangunan secara resmi dialihfungsikan menjadi Museum Satria Mandala. Pada waktu itu, berbeda dengan kebanyakan museum, bangunan ini khusus diresmikan oleh Presiden Soeharto. Nugroho Notosusanto pun diangkat menjadi kepala museum yang pertama, setelah sebelumnya mendapatkan gelar kehormatan dari militer.
Karena museum ini adalah museum yang merekam sepak terjang militer Indonesia, maka pengelolaan museum dilakukan di bawah koordinasi Pusat Sejarah TNI. Meskipun demikian, dari 29 personilnya hanya enam yang berasal dari militer.
Kecuali Nugroho Notosusanto, jabatan kepala museum selalu dipegang oleh orang-orang dari kalangan militer. “ Beliau memang tak berasal dari kalangan militer, maka sebelum memegang jabatan kepala museum, Nugroho Notosusanto diberi gelar kehormatan dari militer,” ujar Ramsiah, pegawai bagian Bimbingan dan Edukasi museum ini.
Selepas meninggalkan loket, pengunjung disambut sebuah pintu besar berukir yang dibuat dari kayu jati. Ruangan pertama museum ini memajang lambang TNI, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, juga Lambang Kepolisian Republik Indonesia. Lambang-lambang berukuran besar ini dipajang di sisi kiri ruangan, sementara bagian tengah ruangan memampangkan teks proklamasi berukuran besar.

—————-

Karya-karyanya:

* Hujan Kepagian (1958)
* Rasa Sajangé (1961)
* Tiga Kota (1959)

Filed under: Profil Sastrawan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: