Kampoeng Pujangga

Ikon

Rokok

rokok1-copySebuah rokok akhirnya ia bakar juga. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam. Asap masuk dan keluar tak lama kemudian dengan bentuk hembusan berantakan. Setelah bagian depan yang terbakar sudah agak panjang, ia menghempaskannya asbak. Kalau tak ada, ke segala arah.

Sudah 5 tahun ia aktivitasnya tidak bisa lepas dari barang mungil itu. Taufiq Ismail mengistilahkan rokok sebagai “tuhan lima centi”. Dan ia suka sekali dengan sajak itu. Tapi mengapa ia masih suka menghirup aroma tuhan lima centi itu? ia tak pernah berhasil melupakannya.

Pernah suatu ketika mencoba tidak merokok dengan berpuasa. Tak berhasil juga. Akhirnya tak pernah lagi ia mencoba. Karna ia pikir yang dilakukannya adalah seuatu yang sia-sia.

Ia suka duduk di depan komputer. Menulis. Suka berlama-lama di meja baca. Membaca novel. Suka berlama-lama di kamar mandi. Be’ol. Suka berlama-lama di area kampus bersama teman-temannya. Diskusi. Dan hampir semua aktivitas yang dilakukan di atas, selalu ditemani dengan barang mungil mematikan itu.

Tidur di malam hari, juga susah ia lakukan. Kalau sudah tak bisa tidur, maka ia merokok. Dan pada malam hari, frekwensi merokoknya semakin cepat seperti gerbong kereta. Badannya juga sudah mulai tidak enak. Sakit barangkali. Namun tetap saja ia merokok.

Setiap kali ditanya oleh teman-temannya, ia selalu menjawab dengan bercerita tentang seorang tua. Konon, katanya, ada seorang tua yang sakit. Diagnosa dari dokter menunjukkan ia sakit gara-gara kebanyakan rokok. Tak sengaja dokter yang umurnya juga tak seberapa beda jauh itu berkata: “wah, seandainya uang yang bapak belikan rokok itu ditabung setiap hari, pasti bapak sudah memiliki gedung bertingkat.” katanya setelah tau ternyata bapak itu habis 3 bungkus rokok setiap hari. Bapak itupun menjawab: “Dokter saja yang tidak merokok, ke rumah sakit hanya naik motor!”

Setelah bercerita, maka ia akan membakar rokonya lagi. Menghisap asapnya dalam-dalam. Menghempaskan lewat mulutnya dengan sedikit menonjolkan lidahnya. Ia tak peduli akan tubuhnya yang sakit.

Dan begitulah barangkali ia menghiasi hidupnya dengan “tuhan lima centi” itu, dengan keyakinan suatu saat ia akan sadar bahwa di dalam dirinya, racun sudah menjalar.

Filed under: Catatan Mungil

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Juli 2009
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: