Kampoeng Pujangga

Ikon

Persoalan Angkatan 66

Mengapa setelah angkatan ’45, tiba-tiba angkatan ’66? Pada era 50-an, beberapa penulis di Indonesia, khususnya, mengalami sekelumit kegelisahan dalam karya-karyanya.1 Tulisan-tulisan mereka, kata Soejatmoko, mengalami krisis, dikarenakan hanya berupa tulisan-tulisan kecil yang berlingkar sekitar fsikologisme perseorangan semata-mata. Roman-roman besar tidak lagi ada ditulis.
Reaksi hebatpun datang dari sejumlah penulis.2 Dalam tulisan berjudul “Situasi 1954” yang ditujukan kepada sahabatnya Ramadhan K.H, Nugroho Notosusanto mencoba mencari latar belakang timbulnya penamaan “Impasse sastra Indonesia” yang, baginya tidak lebih hanya sebuah “Mite” (dagangan belaka). Menurut Nugroho, asal timbulnya mite itu ialah pesimisme yang berjangkit dari kalangan orang-orang tertentu pada masa sesudah kedaulatan. Walaupun Nogroho sendiri menyadari, kemungkinan yang menyuarakan, bahwa golongan “Old Cracks” angkatan 1945 pada sekitar tahun 1945 mengalami masa keemasan, pada masa sesudah tahun 1950 mengalami kemunduran.3
Setelah itu, aktivitas sastra terutama hanya dalam majalah-majalah saja.4 Karena sifat majalah maka karangan-karangan yang mendapat tempat terutama yang berupa sajak, cerpen dan karangan-karangan lain yang tidak begitu panjang. Keadaan seperti itulah yang menyebabkan lahirnya istilah “sastra majalah”.5
Persoalan lahirnya angkatan sesudah Chairil Anwar, dalam simposium sastra tahun 1955, Harijadi S. Hartowardoyo memberikan sebuah prasaran yang berjudul “Puisi Indonesia sesudah Chairil Anwar”, juga dalam simposium-simposium di Jogyakarta, Solo dan kota-kota lain ada kecendrungan pikiran untuk menganggap telah lahir suatu angkatan para pengarang baru yang terasa tidak tepat lagi digolongkan kepada angakatan Chairil Anwar yang populer dengan nama angkatan 45 itu.
Dalam simposium sastra yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960 Ajib Rosyidi memberikan sebuah prasaran untuk mencari ciri-ciri yang membedakan angkatan terbaru dengan angkatan 45.6 Lebih lanjut dalam prasaran itu dikemukakan bahwa sikap budaya para sastrawan yang tergolong pada angkatan terbaru merupakan sintesis dari dua sikap ekstrim mengenai konsepsi kebudayaan Indonesia.
Dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh fakultas tahun 1963, Nugroho Notosusanto dalam ceramahnya berjudul “soal periodisasi dalam sastra Indonesia” mengemukakan bahwa memang ada periode sebelumnya. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif menulis pada periode 1950 ialah mereka yang telah mempunyai “sebuah tradisi Indonesia sebagai titik tolak”. Sifat imitatif dari Belanda atau Eropa berkurang. Pandangan keluar negeri tidak hanya Eropa melainkan keseluruh Dunia. Ditambah pula oleh penghargaan yang wajar kepada sastrawan-sastrawan Indonesia sendiri.
Konsep ataupun batasan mengenai sesuatu, oleh Budi Darma diyakini dapat mengundang perdebatan. Tidak ada satu konsep pun yang luput dari kelemahan. Kesulitan menentukan konsep suatu karya dikarenakan sifat karya tersebut sukar dijabarkan dengan kata-kata.7
Berbeda dengan para pengarang punjangga baru dan angkatan 45, para pengarang periode 50 ini lebih menitik beratkan pada penciptaan. Hal tersebut berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mereka pada saat itu. Baru kemudian setelah berkesempatan menambah pengetahuan, mereka merumuskan cita-cita dan kehadirannya, pada periode tahun 60-an. Sehingga, angka ”50-an” terlewatkan dalam perkembangan sejarah sastra Indonesia.

PEMBAHASAN

A. Angkatan ’66 dalam Perangkap Politik

Merupakan suatu kenyataan sejarah bahwa sudah sejak awal pertumbuhan sastrawan-sastrawan Indonesia menunjukkan perhatian yang serius kepada politik. Bahkan ada di antaranya yang kemudian lebih terkenal sebagai politikus daripada pengarang. Sebut saja Muh. Yamin dan Roestam Effendi dan beberapa penulis lain. Demikian juga para pengarang pujangga baru. Mereka adalah orang-orang yang aktif dalam dunia pergerakan nasional. Para pengarang pada awal revolusi bukanlah orang-orang yang tidak berpolitik. Chairil Anwar, Pramaedya Ananta Toer, Achdiat K. Mihardja, Mochtar Lubis, merupakan orang-orang yang mempunyai pandangan dan kesadaran politik yang tajam.1
Perbedaan-perbedaan pandangan mengenai seni dan sastra yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan pendirian politik, sudah sejak lama kelihatan dalam dunia sastra Indonesia. Pada awal tahun lima puluhan terjadi polemik yang seru juga antara orang-orang yang membela hak hidup Angkatan 45 dengan orang-orang yang mengatakan “Angkatan 45 sudah mampus” yang berpangkal pada suatu sikap politik. Pihak yang berpaham realisme-sosialis, paham yang menjadi filsafat-seni kaum komunis aktif mengadakan polemik. Penganut paham realisme-sosialis yang paling keras teriakannya ialah As Dharta yang menjadi pokok soal bahan polemik-polemik ialah paham “seni untuk seni” dan “seni untuk rakyat”. Orang-orang yang menganut paham realisme sosialis berpaham “seni untuk rakyat” sambil mengutuk orang-orang yang berpaham “seni untuk seni” sebagai penganut “humanisme universal” yang dicapnya sebagai filsafat kaum borjuis kapitalis yang bobrok.
Di antara polemik-polemik itu, karena kedua belah pihak menulis dengan kepala dingin dan pandangan yang luas serta hati terbuka, maka yang terjadi sekitar tahun 1954 antara Boejoeng Saleh Poeradisastro dengan Soedjatmoko berkenaan dengan pandangan-pandangan Soedjatmoko dalam karangannya “Mengapa Konfrontasi”.
Pada tahun 1950 berdirilah di Jakarta Lembaga Kebudayaan Rakyat yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Lekra. Sebagai sekretaris jenderalnya yang pertama bertindak As. Dharta. Pada mulanya Lekra ini belum merupakan organ kebudayaan dari PKI. Di antara yang hadir pada ketika pembentukan Lekra itu terdapat orang-orang yang kemudian menjadi musuh, antara lain: H.B. Jassin dan Achdiat K. Mihardja.
Setelah PKI kuat kedudukannya, Lekra secara resmi menjadi organ kebudayaannya. Lekra dengan tegas menganut “seni untuk rakyat” dan menghantam golongan yang menganut paham “seni untuk seni”.
Dalam gelanggang percaturan politik, PKI makin kuat kedudukannya. Tahun 1959 Soekarno mendekritkan UUD 1945 berlaku lagi dan mengajukan “Manifesto Politik” (Manipol) sebagai dasar haluan negara. Manipol memberikan ruang gerak kepada PKI untuk merebut tempat-tempat dan posisi-posisi penting untuk merebut kekuasaan.2
Dalam usaha mempersiapkan diri untuk merebut kekuasaan, PKI mengerahkan segala kekuatan di segala bidang. Dalam bidang kebudayaan dilakukan oleh Lekra. Lekra melakukan teror terhadap orang-orang dan golongan yang dianggapnya tidak sepaham. Maka, disusunlah konsep ”Manifes Kebudayaan” oleh Wiratmo Soekito pada tanggal 17 Agustus 1963 yang akhirnya didiskusikan dengan beberapa penulis, pelukis, pengarang dan seniman, di antaranya: H.B. Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Moehammad, Bur Rasuanto, A. Bastari Asnin, Soe Hok Djin (Arif Budiman), Ras Siregar, D.S. Moeljanto, Sjahwil, dan Djufri Tanissan, dalam sebuah pertemuan di Jl. Raden Saleh 19, pada tanggal 23-24 Agustus pada tahun yang sama.3
Dari hasil pertemuan itu, lahirlah manifes kebudayaan yang isinya kurang lebih berupa pernyataan bahwa kesenian (kesusastraan) Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta, dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan ummat manusia, atau melihat setahun sebelumnya, ketika Majelis Seniman dan Budayawan Islam pernah mengatakan bahwa tujuan kebudayaan pada umumnya dan kesenian pada khususnya tidaklah semata bertujuan “seni untuk seni” atau “seni untuk rakyat” tetapi harus diluhurkan menjadi, “seni untuk kebaktian ke hadirat Allah”; sebaiknya tidak dimaknai dengan menggunakan kerangka berpikir yang dogmatis. Ada satu hal yang perlu digaris bawahi dalam kedua pernyataan di atas, yaitu bahwa kesusastraan Islam, kalaupun berawal dari manusia muslim, pada akhirnya adalah umat manusia secara universal. Di sini ada usaha untuk merobek tirai dogmatisme baik dalam kesastraan ataupun keislaman itu sendiri.4
Manifes kebudayaan ini segera mendapatkan sambutan dari pelosok tanah air. Di pihak lain, manifes mempermudah Lekra beserta kampanyenya untuk menghancurkan orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh. Namun, pihak manifes pun tidak tinggal diam mereka mempersiapkan konferensi pengarang yang mereka namakan Konferensi Karyawan Pengarang Se-Indonesia (KKPI). Konferensi ini berlangsung di Jakarta bulan Maret 1964, yang menghasilkan Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI). Tapi, sebelum PKPI berjalan, Soekarno (presiden saat itu) menyatakan manifes kebudayaan terlarang. Para budayawan, seniman, dan pengarang penandatanganan manifes kebudayaan diusir dari tiap kegiatan, ditutup kemungkinan mengumumkan karya-karyanya, bahkan yang menjadi pegawai pemerintah dipecat dari pekerjaannya.5 Istilah ‘Manikebuis’ menjadi populer digunakan untuk menuduh seseorang kontra revolusi, anti-manipol, anti-lisdek, anti-nasakom dan sebagainya. Majalah sastra dituntut dilarang terbit. Demikian juga majalah Indonesia, dan lain-lain.
Situasi ini memberi ciri kepada karya-karya sastra yang dihasilkan pada periode ini. Yang ingin membela kemerdekaan manusia yang diinjak-injak tirani mental dan fisik. Sajak-sajak, cerpen-cerpen, terutama esai-esai yang ditulis merupakan protes sosial dan protes terhadap penginjakan martabat manusia. Puncaknya adalah sajak-sajak Taufiq Ismail, Mansur Samin, Slamet Kirnanto, Bur Rasuanto, dan lain-lain yang ditulis ditengah demonstrasi mahasiswa dan pelajar awal tahun 1966.
Sajak-sajak demonstrasi yang dikumpulkan Taufik Ismail dalam Tirani dan Benteng (tahun 1966) merupakan dari suatu period sejak tahun 1966, terbit Majalah Horison yang dipimpin Mochtar Lubis, H.B Jassin, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan lain-lain. Akhir tahun 1967, majalah sastra dihidupkan kembali dengan pimpinan redaksi H.B jassin. Terbit pula Majalah Cerpen dipimpin Kassim Achmad dan D.S Moeljanto. Sejak Juni 1968 terbit Majalah Budaya Djaja yang dipimpin Ilen Surianegara dengan redaksi Ajip Rosidi dan Hariyadi S. Hartowardjojo. Majalah-majalah itu isinya menunjukkan hasil-hasil masa transisi.

B. Tentang Para Pengarang Lekra

Karangan-karangan yang ditulis oleh pengarang bukan anggota Lekra, asalkan menguntungkan bagi pihak Lekra, maka karangan tersebut diterbitkan juga. Misalnya kumpulan sajak Sitor Situmorang yang berjudul “Zaman Baru” tahun 1962 diterbitkan oleh organ penerbitan Lekra.
Selain ruangan kebudayaan dalam surat kabar partai Harian Rakyat yang dipimpin oleh NR. Bandaharo, Lekra mempunyai majalah Zaman Baru yang dipimpin oleh Rivai Apin, S. Anantaguna dan lain-lain. Beberapa bulan menjelang Gestapu, mereka menerbitkan harian Kebudayaan Baru yang dipimpin oleh S. Antaguna, yang dalam penerbitannya selalu dimuat sajak-sajak, cerpen-cerpen, esai-esai dan karangan-karangan lain baik asli maupun terjemahan karya para anggota Lekra atau bukan.
Paramoedya Ananta Toer yang merupakan salah seorang ketua lembaga seni sastra (Lekra) dan salah seorang anggota pleno Pengurus Pusat Lekra, memimpin ruangan kebudayaan lentera dalam surat kabar Bintang Timur minggu, yang resminya ialah koran Partindo.6
Di antara golongan nama-nama baru yang untuk pertama kali menulis, ada juga nama-nama yang sudah dikenal sebagai pengarang yang kemudian masuk Lekra. Nama-nama yang sudah dikenal itu antara lain Rivai Apin, S. Rukiah, Kuslan Budiman, S. Wisnu Kontjahjo, Sobron Aidit, Utuy T. Sontanz Dadang Djiwapradja, paramoedya Ananta Toer dan lain-lain.
Di antara para penulis yang namanya sejak mulai muncul selaku dalam lingkungan Lekra ialah A.S, Dharta Bachtiar Siagin, Bakri Siregar, Hr. Bandaharo, F.L. Risakorta, Zubir A.A, A. Kohor Ibrahim, Amarzam Ismail Hamid, S. Anantaguna. Again Wispi, Kusni Sulang, B.A Simanjuntak, Sugiarti Siswandi, Hadi S dan lain-lain. AS Dharta alias Kelana Asmara, alias Klara Akustia alias Yogaswara alias Garmaraputra dan sejumlah alias lagi nama sebenarnya ialah Rodji, lahir di Cibeber, Cianjur tanggal 7 Maret 1923. Ia seorang pendiri Lekra dan menjadi sekretaris jenderalnya yang pertama, ia pernah menjadi anggota konstitutuante sebagai wakil PKI dan dipecat oleh Lekra.7
Bachtiar Siangin banyak menulis Sandiwara. Ia menerbitkan beberapa buku sandiwara, diantaranya Lorong Belakang (1950). Agam Wispi lahir di Idi, Aceh tahun 1934. Mula-mula menulis cerpen dan sajak, kemudian esai dan bentuk-bentuk sastra lain. Sejumlah sajaknya dimuat juga dalam berbagai penerbitan bersama yang dikumpulkan dalam “sahabat” (1959).
S. Anantaguna (lahir di Klaten tanggal 9 Agustus 1930) mula-mula menulis sajak-sajak tetapi kemudian menulis juga cerpen dan karangan-karangan lain. Sajak-sajak yang diterbitkan dalam kumpulan “yang Bertanah Air Tapi Tidak Bertanah” (1964).
Sobron Aidit lahir di Belitung 2 Juni 1934 juga mula-mula hanya menulis sajak kemudian juga menulis cerpen dan roman. Sajak-sajak awal (sebelum ia aktif menjadi anggota Lekra) sebagian dimuat dalam kumpulan bersama Asip Rosidi dan S.M. Ardan berjudul “Ketemu di Jalan” (1956). Sejumlah sajaknya dibukukan dalam palang bertempur (1959) sedangkan cerpen dan novel revolusinya diterbitkan dengan judul Derap Revolusi (1962).
Hadi S. yang nama panjangnya ialah Hadi Sosrodanukusumo terutama menulis sajak yang sebagian telah diterbitkan dengan judul “Yang Jatuh dan Yang Tumbuh” (1954). Penyair Lekra diantara yang muda ialah Amarzan Ismail Hamid (lahir ?) yang kadang-kadang juga menulis cerpen dan esai.

C. Para Pengarang Keagamaan

Pesaing Lekra dalam bidang penerbitan buku-buku sastra barangkali hanya Lembaga Kebudayaan Kristen (Lekrindo) saja. Beberapa buku kumpulan sajak dan cerita-cerita karangan para pengarang Kristen yang pernah diterbitkan antara lain “Kidung Keramahan” (1963) kumpulan sajak Soeparwata Wiratmadja ‘Hari-hari Pertama oleh Gerson Poyk, dan kumpulan sejak malam sunyi (1961) dan basah dan peluh (1962) kedua-duanya buah tangan Fridolin Ukur.
Buku-buku karya sastra yang bernafaskan agama Islam tidaklah diterbitkan oleh lembaga-lembaga atau badan-badan yang ada sangkut pautnya dengan lembaga-lembaga kebudayaan itu kumpulan-kumpulan cerpen dan roman. Kumpulan cerpen dan roman Djamil Suherman yang berdujul “Umi Kalsum” dan “Perjalanan Ke Akhirat” diterbitkan oleh penerbit Nusantara. Kumpulan sajak M. Saribi Afn “Gema Lembah Cahaya” (1964) diterbitkan oleh Pembangunan. Dan kumpulan sajak delapan orang penyair Islam yang berjudul “Manifes” (1963) diterbitkan oleh penerbit Tintamas, Bandung.
Di antara para pengarang keagamaan lain yang telah menulis sajak-sajak dan cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah-majalah. Tetapi belum menerbitkan buku, antara lain patut disebut di sini M. Abnar Romli, Abdul Hadi W.M, B. Jass, M. Josa Biran, Moh. Diponegoro dari agama Islam dan M. Poppy Hutagalung, Andre Hardjana, Satyagraha Hoerip Soeprobo, Bakti Soemanto, J. Sijaranamual dan lain-lain dari agama Kristen dan Katolik.

D. Sajak-Sajak Perlawanan Terhadap Tirani

Para mahasiswa dan pelajar di Indonesia berdemonstrasi menuntut untuk membubarkan PKI, ritual kabinet Dwikora dan turunkan harga, yang biasa disebut Tritura. Para pengarang dan penyair pun turut serta secara aktif dengan cara menulis sajak-sajak perlawanan terhadap tirani. Diantaranya adalah ”Tirani dan Benteng” oleh Taufiq Ismail, ”Perlawanan” oleh Mansur Samin, ”Mereka Telah Bangkit” oleh Bur Rasuanto, ”Pembebasan” oleh Abdul Wahid Sitomorang, ”Kebangkitan” oleh lima penyair mahasiswa Fakultas Sastra Ribeli yang ditulis oleh Aldiah Arifin, Djohan A. Nasution dan dua pengaduan Lubis, dan sajak-sajak yang lain. Yang paling menonjol adalah kumpulan sajak Tirani yang tercetak pada tahun 1966 dan Benteng tahun 1968.
Adanya protes sosial dan politik dalam sajak itu menyebabkan H.B. Jassin memperoklamasikan lahirnya ‘Angkatan 66” dalam majalah Horison (1966), yang mengatakan bahwa khas pada hasil-hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial dan protes politik. H.B. Jassin mengatakan bahwa pengarang yang masuk “Angkatan 66” adalah mereka yang pada tahun 1945 berumur kira-kira 6 tahun dan pada tahun 1966 berumur 25 tahun, mereka adalah Ajip, Rendra, Yusach Ananda, Bastari Asnin, Hartoyo Andangdjaja, Mansur Samin, Sarbini Afn, Goenawan Mohammad. Indonesia O’Galelano, Taufiq Ismail, Navis, Soewardi Idris, Djamil Suherman, Bokar Hulasuhut”.
Terhadap ‘Angkatan 66’ ini timbul berbagai reaksi Rachmat Djoko Pradopo di Horison (1967) menyambut ‘Angkatan 66” sastra Indonesia dengan baik, sedangkan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan Arief Budiman lebih menyukai nama ‘Angkatan Manifes Kebudayaan’.

E. Beberapa Pengarang dan Penyair

B. Soelarto, Lahir tanggal 11 September 1936 di Purwarejo. Ia menulis cerpen yang penuh dengan protes dan ejekan dan hanya catatan-catatan mengenai situasi politik dan sosial. Dramanya yang berjudul Domba-Domba Revolusi mendapat reaksi dari orang-orang Lekra. Kemudian drama itu ditulis dalam bentuk novel yang berjudul Tanpa Nama oleh Nusantara tahun 1963. Balai Pustaka juga menerbitkan dramanya yang berjudul Domba-Domba Revolusi (1968).
Bur Rasuanto, Lahir di Palembang, 6 April 1937. Ia menulis sajak, esai dan roman. Tahun 1967 ia pergi ke Vietnam menjadi wartawan Perang Harian Kami. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Bumi Yang Berpeluh (1963) dan Mereka Akan Bangkit (1964). Sajak-sajaknya berjudul Mereka Telah Bangkit diterbitkan dengan stensil. Romannya berjudul Sang Ayah (1969), dan Manusia Tanah Air.
A. Bastari Asnin, Lahir tanggal 29 Agustus 1939 d Muara Dua, Palembang. Ia bekerja sebagai anggota redaksi Harian Kami. Cerpen-cerpennya diterbitkan berupa buku dalam dua kumpulan yaitu Ditengah Padang dan Laki-Laki Berkuda.
Satyagraha Hoerip Soeprobo, Lahir di Lamongan 7 April 1934, ia banyak menulis cerpen dan esai tentang kebudayaan. Romannya Sepasang Suami Istri melukiskan kehidupan seorang suami politikus. Ia juga pernah menulis buku berupa cerita wayang berjudul Resi Bisma. Tahun 1969, ia muncul sebagai editor sebuah buku Antologi Eser Sekitar Persoalan-Persoalan Sastra yang memuat esai karya Asrul Sani, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad, Arief Budiman, dan lain-lain.
Gerson Poyk, Lahir di Namodale, Pulau Roti, 16 Juni 1931. Buku pertamanya sebuah roman pendek berjudul Hari-Hari Pertama (1964). Ia menjadi wartawan surat kabar Sinar Harapan, Jakarta.
Pengarang-pengarang kita seperti Fas Siregar menerbitkan kumpulan cerpen berjudul ”Harmoni” dan roman ”Terima Kasih”. LC. Bach menerbitkan sebuah riman yang berjudul hari Membaja. Djumri Obeng menerbitkan roman yang berjudul Dunia Belum Kiamat. Poernawan Tjonsronagoro menerbitkan Mendarat Kembali dan Mabuk Sake. Rosidi Amir menerbitkan Jalan yang Tak Kunjung Datat. Zen Rosidy menerbitkan cerpen berjudul Cinta Pertama. Tabrin Tahar menrbitkan Guruh Kering. Maria Madijah menulis roman Kasih di Medan Perang.
Di Majalah Sastra dan Horison juga ada beberapa pengarang baru, misalnya Zulidahlan, Umar Kayam, Danarto, Moh. Fudzali Zaini, Julius Sijaranamual, dan lain-lain yang belum mendapat kesempatan untuk mencetak cerpen-cerpen mereka menjadi buku.
Taufiq Ismail, Lahir tahun 1937 di Bukit Tinggi dan dibesarkan di Pekalongan. Beliau mulai mengumumkan sajak-sajak, cerpen-cerpen dan esai-esainya sejak tahun 1954. Baru pada awal tahun 1966 ia muncul ke permukaan ketika karyanya berjudul “Tirani” berisi sajak-sajak diumumkan di tengah-tengah demonstrasi para mahasiswa dan pelajar yang menyampaikan “Tritura”. Dalam karyanya ini, beliau memakai nama samaran Nur Fadjar. Sajak-sajak itu berjumlah 18 dan dituliskan dalam waktu seminggu, antara tanggal 20 dan 28 Februari 1966 dan diterbitkan pertama kali di Majalah Gema Psycholohi. Kali ini Taufiq sudah terang-terangan mengumumkan namanya sendiri. Antara tanggal 20 sampai 28 Februari 1966 di Jakarta terjadi peristiwa-peristiwa penting. Demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang menuntut Tritura, uang diganti, bensin dinaikkan harganya, ongkos bis kota dinaikkan lima kali lipat. Tanggal 24 Februari kabiner Dwikora yang baru dan malah memasukkan menteri-menteri Gestapu lebih banyak lagi akan ditantik. Para mahasiswa dan pelajar bergerak. Bentrokan terjadi disertai penembakan. Arif Rahman Hakim tertembak dan wafat. Hal ini menyebabkan para mahasiswa dan pelajar lebih marah lagi. Pemakaman Arif Rahman Hakim dilakukan secara pahlawan dan orang yang mengiringi jenazahnya pe pekuburan sangat banyak.
Latar belakang itu harus dipahami agar kita dapat menikmati sajak-sajak Taufiq Ismail dalam Tirani yang menggugah rangsang emosional pembacanya secara meluas.
Peristiwa di Sekretariat negara (penembakan dan beberapa orang mahasiswa terluka) direkamkan dalam sajak ‘Sebuah Jaket Berlumur Darah’, ‘Harmoni’, ‘Jalan Segara’. Penembakan Arif Rahman Hakim direkamkan dalam sajak ‘Karangan Bunga’, ’Salemba’, ‘Percakapan Angkasa’, ‘Aviasi’, dan ‘Seorang Tukang Rambutan pada Isterinya’.
Sajak-sajak yang dimuat dalam “Benteng” tak jauh beda dengan yang dimuat dalam “Tirani”. Hanya dalam ”Benteng” pikiran sudah lebih banyak bicara. Dalam sajaknya ‘Rendezvous’, Taufiq yakin bahwa tugas yang ketika itu sedang dilakukannya ialah tugas sejarah yang tak bisa dielakkan. Maka tujuan dan cita-cita yang lebih terperinci dirumuskannya dalam ‘Yang Kami Minta Hanyalah’, ‘Refleksi Seorang Pejuang Tua’, ‘Benteng’, dan ‘Nasihat-nasihat Kecil Orang tua pada Anaknya Berangkat Dewasa’.
Goenawan Mohamad, dikenal sebagai penulis esai yang tajam dan penuh dengan kesungguhan. Tetapi ia pun sebenarnya seorang penyair berbakat dan produktif. Sajak-sajaknya banyak tersebar dalam majalah-majalah. Sajak-sajak itu mempunyai suasana muram sepi menyendiri. Kesunyian manusia di tengah alam sepi tanpa kata banyak menjadi temannya, misalnya ‘Senja pun Jafi Kecil, Kota pun jadi Putih’ (Horison 1966). Tetapi, ia juga menaruh perhatian kepada masalah-masalah sosial dan kehidupan sekelilingnya. Misalnya sajak ‘Siapakah Laki-laki yang Roboh di Taman ini ?’ (Basis 1964).
Juga masalah agama banyak menjadi tema. Situasi kehidupan agama menyebabkan ia berpendapat : “………manusia tak lagi bebas, di mana agama bukan lagi merupakan kekuatan rohaniah, tetapi sudah merupakan kekuatan jasmaniah yang mengontrol tindak tanduk manusia. Manusia lama-kelamaan tidak lah menyembah Tuahn, tetapi menyembah agama dengan segala aturan-aturannya yang mendetail”. Selanjutnya ia berkata: “Tak lain adalah bersikap kreatif yang membawa kita ke arah cara berfikir yang dialektik, sehingga segala macam ortodoksi setapak dmi setapak akan luntur, dekimian pula segala macam fanatisme dan segala bentuk sektarisme. Bagi kehidupan keagaman itu sendiri sikap kreatif itu amat diperlukan untuk membawa agama kearah modernisasi dalam cara berfikir dan dengan demikian, juga modernisasi seluruh masyarakat” (Horison 1966).
Goenawan lahir di Pekalongan tahun 1942 sajak-sajak da esai-esainya belum diterbitkan sebagai buku kecuali yang dimuat bersama buah tangan para penyair lain dalam manifestasi yang diselenggarakan oleh M. Saribi Afn.
Penulis lainnya, Saini K.M (lahir di Sumedang pada tanggal 16 Juni tahun 1938) banyak menulis sajak-sajak yang dimuat majalah-majalah sekitar tahun enam puluhan. Selain itu, beliau juga menulis cerpen dan esai serta menerjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya, bahasa Sunda. Kumpulan sajaknya “Nyanyian Tanah Air” (tahun 1968) memuat sepilihan sajak-sajaknya.
Sapardi Djoko Damono menulis sajak yang kesederhaan pengucapannya langsung menyentuh hati. Sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1967-1968 diterbitkan akhir 1969 dengan judul “Duka Mu Abadi”.
Wing Kardjo Wangsaatmadja (lahir di Garut pada tanggal 23 April 1937) sudah menulis sajak pertengahan tahun lima puluhan. Ia telah mengumumkan satu-dua sajaknya pada masa itu. tetapi baru setelah ia bermukim di Paris (tahun 1963-1967), ia mengumumkan sajak-sajaknya secara berlimpah. Selain itu, ia banyak menerjemahkan dan menulis esai dan kritik tentang persoalan-persoalan seni umumnya.
Budiman S. Hartojo (lahir di Solo pada tanggal 5 Desember 1938) juga banyak menulis sajak-sajak dalam berbagai majalah. Demikian pula Piek Ardiajnto Suprijadi, Arifin C. Noer, Abdulhadi W.M, Indonesia O’Galelano, Sanento Juliman, Darmanto Jt, dan lain-lain.
Beberapa penyair telah berbahagia dapat melihat kumpulan sajaknya terbit, misalnya Kamal Firdaus T.F menerbitkan “Di Bawah Fajar Menyingsing” (1965), dan Rachmat Djoko Pradopo (lahir 3 Novemcber 1939 di Klaten) menerbitkan “Matahari Pagi di Tanah Air” (1967) dan Slamet Kirnanto menerbitkan “Kidung Putih”, “Puisi Alit” (1967).
Beberapa pengarang wanita: Titie Said, S. Tjahjaningsih, Titis Basino, Sugiarti Siswandi, Ernisiswati Nutomo, Enny Sumargo, dan lain-lain sebagai pengarang prosa. Sedangkan sebagai penyair kita lihat munculnya Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soerharjo, Toeti Heraty Noerhadi, Rita Oetoro dan lain-lain.8

Setelah Angkatan ’66

Pengkotakan sastra Indonesia dengan adanya bermacam-macam jenis angkatan sastra, terkesan membingungkan kita. Untuk itu, telah timbul berbagai pertanyaan mendasar; apakah setelah angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Teka-teki angkatan sastra telah terjawab (meski belum tuntas sepenuhnya) dengan diterbitkannya antologi angkatan 2000 oleh Korrie Layun Rampan. Diakui atau tidak mengenai angkatan 2000 tersebut, bukan menjadi persoalan pokok-yang jelas buku antologi tersebut telah memaparkan “orang-orang” yang setidaknya ikut dalam mewarnai perjalanan sastra Indonesia pada era tahun 1966 ke atas.
Dan, harus diakui, setelah angkatan 66 dengan salah satu tokoh kuncinya, Taufiq Ismail, baru kemudian Pamusuk Eneste kembali membakukan angkatan 70-an dalam buku Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern. Dengan terbitnya buku itu, setelah angkatan 66, sebenarnya telah diakui “keberadaan”nya angkatan 80. Beberapa dari mereka telah menghasilkan sejumlah karya penting. Justru, setelah angkatan 66 itulah khazanah sastra kita mengalami kesemarakan yang luar biasa.
Secara kualitatif, maupun kuantitatif, karya-karya yang muncul demikian jauh lebih beragam dan dengan “berani” menunjukkan berbagai eksperimentasinya terhadap suatu daya kreatif. Dan jauh lebih penting lagi, karya-karya mereka telah menunjukkan kematangan pola berpikir yang jauh. Lalu, atas dasar pemikiran yang bagaimana sehingga karya-karya mereka tersebut tidak dapat dimasukkan ke dalam angkatan 66? Untuk itu perlu ditelaah dasar pemikiran sang “paus sastra” H. B. Jassin dalam penyebutan angkatan 66.
Bertolak dari itu, H. B. Jasssin menyebutkan nama angkatan 66 dengan bertumpu pada peristiwa tahun 1966 ketika para mahasiswa dan para pelajar kita berhasil “mendobrak” kebobrokan negara pada masa itu.”1… kita pun menyaksikan ledakan pemberontakan dari penyair, pengarang dan cendekiawan, yang telah sekian lama dijajah jiwanya dengan slogan-slogan yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.” Lebih lanjut H.B. Jassin menambahkan: “Siapakah angkatan 1966 ini? Ialah mereka yang tatkala tahun 1945 berumur kira-kira 6 tahun dan.. tahun 1966 kira-kira berumur 25 tahun… telah giat menulis dalam majalah sastra dan kebudayaan sekitar tahun 55-an, seperti Kisah, Siasat, Mimbar Indonesia, Budaya, Indonesia, Konfrontasi, Tjerita, Prosa, Basis….”
Maka, atas dasar itulah, H.B. Jassin memasukkan nama-nama Motinggo Busje, Sapardi Djoko Darmono, Taufiq Ismail, Umar Kayam, Goenawan Mohammad, Arifin C. Noer, Ramadhan KH, Bur Rasuanto, W.S. Rendra, Ajip Rosidi, Subagio Sastrowardojo, Titie Said, Slamet Sukirnanto, Satyagraha Hoerip, Nh. Dini, dan beberapa nama lain. Sebagian besar dari nama-nama itu, memang telah terlibat aktif dalam pergolakan politik yang terjadi pasca 66. Beberapa dari mereka, terutama, Taufiq Ismail, Abdul Wahid Situmeang, Slamet Sukirnanto, Bur Rasuanto, juga memperlihatkan karya yang menunjukkan kebrengsekkanpemerintah kala itu. Jadi, Jassin mencoba memilah mereka dengan didasarkan pada usia pengarang dan kiprahnya sepanjang tahun 19660-an, dengan karya-karya yang mencerminkan perlawanan atau kritik sosial.
Setelah gerakan mahasiswa tahun 1966 berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Lama, kehidupan sosial-budaya (seolah-olah) mendapatkan angin segar untuk berkreasi. Sejak akhir tahun 1967, dan terutama di awal tahun 1970-an, bermunculan karya-karya yang memperlihatkan semangat “kebebasan” itu. Sementara itu, nama-nama yang oleh H.B. Jassin dimasukkan dalam angkatan 1966, dalam tahun 1970-an itu, justru telah memperlihatkan kematangannya.
Jika secara sederhana, para sastrawan angkatan 1970-an atau saya sebut sebagai angkatan 70-an, berdasarkan karya-karya yang dihasilkan, dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Pertama, mereka yang termasuk angkatan 66 atau yang telah berkarya pada era 1960-an, tetapi lebih matang pada tahun 1970-an. Dan, yang termasuk ke dalam golongan ini adalah, antara lain, Rendra, Nasjah Djamin, Umar Kayam, Nh. Dini, Sapardi Djoko Darmono, Goenawan Mohammad, Titis Basino, Abdul Hadi, Sori Siregar, Gerson Poyk, Wing Kardjo, D. Zawawi Imron, M. Poppy Hutagalung, Husni Dajamaludin, Muhammad Fudolli, Leon Agust, dan Satyagraha Hoerip.
Dan, yang kedua, mereka yang karya-karyanya baru muncul tahun 1970-an. Yang termasuk golongan ini adalah, Korrie Layun Rampan, Emha Ainun Nadjib, Rayani Sriwidodo, Sri Rahayu Prihatmi, Wildam Yatim, Marianne Kattopo, Toeti Heraty Noerhadi, Abrar Yusra, Aspar Paturusi, Hamid Jabbar, Linus Suryadi, Putu Arya Tirtawirya, Arswendo Atmowiloto, dan Seno Gumira Ajidarma.
Ketiga, adalah mereka yang menghasilkan karya-karya yang memperlihatkan bentuk eksperimentasinya. Diantaranya ada yang telah berkarya sejak tahun 1960-an. Antara lain, Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, Danarto, Sutardji Calzoum Bahri, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, Budi Darma, Ibrahim Sattah, Adri Darmadji Woko, dan Yudistira Ardi Noegraha.
Dari kelompok-kelompok yang tiga tadi, kelompok ketiga yang memperlihatkan bentuk eksprementasi tersebut, pernyataan “sikap” penyair Sutardji Calzoum Bahri, dapat mewakili usaha pembaruan dalam sastra dekade 70-an. Pada tanggal 30 Maret 1973, SCB menyatakan pendiriannya-dalam kepenyairan dalam sebuah pernyataan “Kredo Puisi”. Kerikut kutiapnnya:”Dalam (penciptaan) pusi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama,….Sebagai penyair saya hanya menjaga-sepanjang tidak mengganggu kebebasannya-agar kehadirannya yang lebih bebas sebagai bentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata yang berarti mengembalikan kata-kata pada awal-mulanya. Pada mulanya-adalah Kata. Dan Kata pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.”
Kesemarakan sastra Indonesia tahun 1970-an kembali dilanjutkan pada tahun 80-an. Pada dasawarsa ini mereka yang telah berkarya pada periode sebelumnya, juga masih terus berkarya. Sekedar menyebut beberapa nama penting yang muncul pada era tersebut: Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, Eka Budianta, Y.B. Mangunwijaya, N. Riantiarno, F. Rahardi, Afrizal Malna, Darman Moenir, Pamusuk Eneste, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Diah Handaning, Ahmadun Y. Herfanda, Adhi M. Masardi, dan Noorca M. Masardi.Dan bagaimanakah kira-kira semangat yang mereka ciptakan pada tahun 1980-an ini? Secara keseluruhan apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya, semangat pembaruan sastrawan 80-an, mulai mengendor, kecuali pada diri Afrizal Malna (puisi), Darman Moenir (novel), Pamusuk Eneste dan Hamsad Rangkuti (cerpen), serta N. Rianrtiarno (drama). Meski demikan, bukan berarti karya-karya mereka tidak penting. Novel Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk) dan Mangunwijaya (Burung-Burung Manyar) merupakan karya penting dalam perjalanan novel Indonesia modern. Demikian pula cerpen Hamsad Rangkuti (Lukisan Perkawinan) merupakan karya matang, meski sebatas mengangkat tema-tema yang besar dalam kehidupan.
Sedangkan pada tahun 90-an , karya sastra kita muncul lebih banyak lagi. Pada era ini, terjadi inflasi puisi. Begitu banyak penulis puisi, tetapi sangat sedikit sekali yang dapat dimasukkan “kategori” penyair. Mereka banyak menerbitkan sendiri karyanya dengan biaya swadaya dan format yang sedanya. Sebagian besar, harus diakui, memperlihatkan talenta yang menjanjikan. Tetapi, untuk menjadi sastrawan besar, tentu saja bakat yang penuh “harapan” itu, harus pula dibarengi dengan wawasan si penyair sendiri yang luas terhadap kejadian dunia akhir-akhir ini. Tanpa itu, tidak tertutup kemungkinan mereka akan kehabisan sejumlah ide yang brilian, dan tinggal menunggu namanya tenggelam. Ciri yang sangat menonjol terjadi pada angkatan 90-an (bila saya bisa menyebutkan mereka yang berkarya pada tahun 1990-an) adalah terjadinya gerakan sastrawan daerah.
Suasana ini dimungkinkan terjadi karena adanya majalah dan koran-koran daerah. Jadi, sebagian dari mereka hanya mempublikasikan karyanya di media massa lokal, tetapi ada juga yang memuat di media massa ibukota. Dengan demikian, peta kesusatraan Indonesia menjadi lebih beragam. Taufiq Ismail, Rendra, Sapardi Djoko Darmono (angkatan 66) terus berkarya. Abdul hadi, Sutardji Calzoum Bahri, Danarto, Kuntowijoyo, Umar Kayam, Hamid Jabbar, Seno Gumira Ajidarma, dan beberapa nama lain dari angkatan 70-an, juga masih terus berkarya. Hal yang sama juga terjadi pada angkatan 80-an. Lihat saja Hamsad Rangkuti yang masih menghasilkan sejumlah cerpen, Afrizal Malna, Ahmaddun, Soni Farid Maulana atau Acep Zamzam Noor, juga telah menelurkan antologi puisi. Dengan demikian, karya sastra, pada dasawarsa 1990-an, dipenuhi oleh karya sastra dari berbagai angkatan. Bahwa karya-karya sastrawan angkatan 66 dan 70-an, turut menyemarakkan peta kesusatraan kita tahun 1990-an, dan karya-karya mereka telah menunjukkan kematangannya sebagai sastrawan “senior”. Dan, ini membuktikan kalau mereka tak kehabisan ide dan gagasan, yang terus bertahan entah sampai kapan.
Beberapa nama-nama penting atau yang potensial menghasilkan karya-karya yang memberikan kontribusi bagi khazanah kesusatraan kita-oleh sastrawan daerah, diantaranya adalah : Gus tf (Padang), Taufik Ikram Jamil (Riau), Agus R. Sarjono, Cecep Samsul Hari, Oka Rusmini, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Saeful Baddar, Karno Kartadibrata, Doddy Achmad Fawdzy, Juniarso Ridwan, Beni Setia, Atasi Amin, Ahda Imran (Bandung), Naim Prahana, Hassanudin Z. Arifin, Isbedy Stiawan ZS, Syaiful Irba tanpaka, Panji Utama, Eddi Samudera Kertagama, Iswadi Pratama (Lampung), Toto St Radik (Banten), Wowok Hesti Parabowo (Tangerang), Anil Hukma (Ujung Pandang), Tomon Haryowisobo (Yogyakarta), Tomy Tamara (Makasar), dan Aspur Azhar (Jakarta). Selain itu sejumlah lulusan dari fakultas sastra di seluruh Indonesia, telah memperkaya dan memberi warbna lain dalam peta puisi Indonesia. Antologi puisi yang telah dihasilkan nama-nama tersebut diatas memperlihatkan karya-karya yang menjanjikan dan penuh pengharapan.
Sementara beberapa cerpenis yang lahir tahun 1990-an-dan juga bertebaran di seluruh pelosok tanah air ini-beberapa diantaranya (mungkin) akan menjadi sastrawan terdepan Indonesia. Jujur Prananto, Yanusa Nugroho, Kurnia Jaya Raya (Jakarta), M. Shoim Anwar, Sirkit Syah, Kusprihyanto Namma, Aria Kamandaka, Sony Karsono (Surabaya), Kazzaini Ks (Riau). Dari Yogyakarta telah muncul dua nama baru Agus Noor dan Joni Aridianta-juga telah memperlihatkan kematangannya; di antara penulis wanita, Helvy Tiana Rosa dan Lea Pamungkas, patut juga diperhitungkan keberadannya.Bagaimana pula dengan prosa Indonesia tahun 1990-an? Dua nama, yakni Ayu Utami (Saman) dan Taufik Ikram Jamil (Hempasan dan Gelombang) merupakan dua novel penting tahun 1990-an ini. Lantas pada tahun 2000? Kembali dunia sastra dikejutkan dengan kehadiran Dee dalam bukunya “Supernova”-padahal Dewi Lestari hanya berprofesi sebagai penyanyi.
Persoalan angkatan sastra, barangkali tak akan pernah tuntas. Yang menjadi soal adalah, bagaimana pasa satrawan tersebut mampu mengeeksploitasi dan mengeksplorasi berbagai problema sosio-kultural dalam masyarakat dan mengangkatnya menjadi sebuah karya yang tak ternilai. Barangkali juga dunia sastra kita akan begitu kaya-mungkin juga diantara dari mereka ke depan bakal meraih nobel sastra dunia yang bergengsi itu. Dengan demikian, karya-karya yang telah hadir, tidak hanya sekedar meramaikan belantara sastra belaka dan hanya sekedar melengkapi sejarah kesusatraan Indonesia.

Filed under: Esai

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Desember 2008
S S R K J S M
« Jun   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: