Kampoeng Pujangga

Ikon

Kereta Berhenti Lama Sekali

Sebuah kereta ekonomi akan segera berangkat. Sebagian penumpang sudah menaiki kereta itu. Bahkan sudah ada yang naik dari sejam yang lalu. Ada juga yang masih sibuk dengan tali kardus yang putus karena beban di dalamnya terlalu berat. Sebagian menuntun keluarga mereka untuk mempergegas langkahnya. Penjaga karcis juga terlihat sibuk melayani penumpang yang sedang mengantri untuk masuk.

Itu adalah kereta jurusan Surabaya. Berangkat hari ini dari Senen. Dan akan tiba di stasiun Pasar Turi kira-kira besok jam sembilan, pagi menjelang siang.
Begitulah kalau naik kereta kelas ekonomi. Terkadang dituntut untuk melatih kesabaran. Kalau tidak, sepanjang perjalanan kita akan merasa tersiksa. Apalagi kalau menjelang bulan puasa atau lebaran. Orang-orang yang akan menjenguk kampung halamannya berebutan untuk mendapatkan tiket kereta murah itu. Bahkan mereka rela mengantri. Setelah dapat ternyata kereta sudah penuh. Terpaksa mereka harus naik walau harus berdiri atau duduk di lantai kereta menggelar koran, karena di tangan mereka sudah ada sebuah tiket. Karena mereka harus pulang. Karena ingin menemui orang-orang dikampungnya. Karena terdesak. Dan sejumlah karena lainnya, yang menuntut mereka ikut kereta itu.
Tapi hari itu seperti biasa. Kereta tidak terlalu penuh. Bahkan di beberapa gerbong penumpangnya sangat jarang. Sehingga mereka bisa tidur-tiduran dengan leluasa. Ada juga yang tidur sungguhan.
Bu Leha. Demikian penumpang yang ada di sampingnya memanggil perempuan setengah baya itu, yang ternyata teman pengajiannya. Bu Ida namanya. Mereka berangkat bersama-sama ke Surabaya. Dari rumah mereka naik taksi. Ternyata sopirnya suami Bu Karimah, teman pengajiannya juga. Sampai akhirnya tiba di Senen dan memilih tempat duduk sesuai dengan letak yang tertera pada tiket kecil berwarna merah muda. Keduanya duduk berdampingan.
”Panas yang Bu!” Bu Leha yang memang baru pertama kali naik kereta ekonomi itu bergumam juga akhirnya.
”Ah, biasa. Nanti juga kalo sudah berangkat tidak panas lagi. Kan anginnya masuk dari jendela.” kata Bu Ida sambil membenarkan posisi tasnya yang terlihat agak miring ke samping.
Sejak semula, Bu Leha menganjurkan untuk naik bis ber-AC saja. Tapi Bu Ida yang juga ingin menghadiri wisuda anaknya yang sudah menyelesaikan S1-nya tetap memberikan alasan kepada Bu Leha mengapa harus memilih naik kereta kelas ekonomi, ”Sayang kan, Bu! Kalau kita naik bis, biayanya bisa empat kali lipat. Apalagi saya harus membawa Ani. Takut nangis dia kalau ditinggal,” katanya membuat Bu Leha berpikir ulang.
Bu Leha tahu, bagaimana kondisi Bu Ida. Dia merasa kasihan kalau Bu Ida harus naik kereta kelas ekonomi sendirian. Apalagi anak mereka adalah teman seangkatan.
”Saya bilang suami saya dulu, ya?” Bu Leha akhirnya menyahut setelah lama berpikir.
”Ya, silahkan ibu bilang dulu sama suami ibu. Kalaupun toh nanti ibu naik bis, biar saya naik kereta sendiri. Soalnya saya bawa uang pas-pasan. Nanti kita ketemu di Surabaya saja”
Setelah mendengar perkataan Bu Ida, Bu Leha merasa iba. Akhirnya dia membuat keputusan tanpa meminta izin dulu kepada suaminya. ”Baiklah kalau begitu. Biar kita berangkat bersama, saya ikut ibu naik kereta saja.”
”Nanti suami ibu tidak mengizinkan, lagi!”
”Oh, itu masalah gampang. Yang penting kita berangkat bareng. Jam berapa berangkatnya?”
”Besok jam tiga-an.”
Lalu Bu Leha minta diri untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Bu Leha bilang kepada suaminya kalau besok dia akan naik kereta bersama Bu Ida. Suaminya menyarankan lagi.
”Tidak takut naik kereta? Apalagi sekarang sering terjadi pencurian dengan cara hipnotis.”
”Ah, Papa ini. Mama kan tidak ada niat jahat kepada orang lain. Masak orang lain mau berbuat jahat kepada Mama?”
”Siapa tahu!”
”InsyaAllah tidak akan terjadi apa-apa. Mama yakin di dalam kereta masih lebih banyak orang baik daripada orang yang punya niat jahat.”
”Apalagi Mama suka masuk angin. Kemarin saja waktu ke Bandung, Mama masuk angin dan muntah. Dan juga kalau naik kereta kan hawanya panas. Apa Mama tahan.” Suaminya terus berusaha menghalang-halangi Bu Leha.
”Mama sudah mempersiapkan obat masuk angin kok. Lagian kasian Bu Ida naik kereta sendirian. Bawa Ani lagi.”
Suaminya diam. Bu Leha menanggapi diamnya tanda setuju.
Bu Leha segera mempersiapkan koper untuk pakaian. Karena di Surabaya dia akan tinggal beberapa hari. Mungkin tiga harian. Oleh-oleh buat anaknya juga sudah dipersiapkan.
Tadi siang Bu Leha membeli stick dan makanan ringan lainnya. Semua bekal sudah dipersiapkan. Dibungkusnya dalam kardus, sehingga besok tidak repot lagi harus mengemasi barang-barangnya.
Dalam kamar Bu Leha kembali memikirkan ucapan suaminya. Lama berpikir, khawatir juga akhirnya. Dia bisa membayangkan bagaimana panasnya hawa di kereta. Tentu dia tidak bisa tidur nyenyak seperti naik bis atau pesawat. Suaminya ada benarnya juga. Daripada nanti kecopetan, uangnya akan habis semua, lebih baik naik bis. Mahal sedikit tapi keamanannya terjamin. Dibuangnya rasa khawatir itu jauh-jauh. Rasa solidaritasnya mengalahkan semuanya.
Pikirannya membawanya terlelap.
Malam mengantarnya bermimpi.
Di luar udara panas kota terus mendesak masuk melalui celah jendela.
-o-
Keesokan harinya, Bu Ida datang ke rumah Bu Leha sekitar jam duabelas. Yang didatangi sudah siap segalanya. Hanya saja pada waktu itu Bu Ida dibuat lama menunggu, karena Bu Leha masih berias di kamarnya. Setelah itu Berangkatlah mereka.
Bu Leha menyerahkan semua urusan pembelian tiket kepada Bu Ida.
Semua urusan tiket selesai. Beberapa saat setelah mereka memilih tempat duduknya. Peluit peringatan segera berbunyi panjang sekali. Gerbong kereta menderu. Roda kereta yang dari besi berputar. Lokomotif segera membawa semua muatannya.
Benar kata Bu Ida. Ternyata kalau kereta sudah jalan, anginnya mulai terasa masuk lewat jendela. Bu Leha lega. Karena rasa gerah yang dari tadi dirasakan lambat laun menghilang.
Di luar, pemandangan tampak berlari cepat ke belakang. Sekarang Bu Leha bisa melihat bagaimana kendaraan lain berhenti setelah kereta melintasi area jalan raya umum. Dalam hatinya dia tersenyum. Kekhawatiran yang selama ini dibayangkannya ternyata hanya perasaan yang didasari rasa takut oleh cerita-cerita suaminya. Ingat akan cerita itu, kemudian Bu Leha menelepon suaminya.
”Assalamu’alaikum. Halo! Pa!”
”Ya!”
”Rupanya naik kereta itu asyik lo. Apa yang Papa khawatirkan ternyata salah. Mama kan bilang, di kereta ini masih lebih banyak orang yang baiknya daripada orang yang punya niatan jahat.”
”Ya!”
”Pokoknya Papa harus merasakan. Rugi lo, kalau dilewatkan.”
”Ya!”
”Ya, sudah. Mama berangkat dulu. Wassalamu’alaikum.”
”Hati-hati di jalan. Jangan lupa baca do’a.”
Bu Leha menutup telepon selularnya. Karena di telponnya terdengar nada seperti sirine panjang, suaminyapun menutup telponnya pula.
Sepanjang penjalanan, Bu Leha dan Bu Ida terbawa dalam perbincangan panjang. Mereka saling menceritakan anak-anak mereka. Dimana semasa kecilnya Dina, anak Bu Leha pernah membakar kasur dengan korek api. Kemudian Bu Ida juga tidak kalah memuji-muji anaknya yang selalu mendapatkan prestasi baik sejak sekolah dasar. Bahkan katanya kemaren, Ririn nelpon. Nilai ujiannya masuk dalam tiga besar.
Bu Leha memang mengakui prestasi Ririn. Dina seringkali cerita tentang Ririn kepada ibunya. Katanya Ririn orangnya rajin dan selalu disuruh mewakili dosen Bahasa Inggris kalau tidak bisa hadir. Sedikit iri memang Bu Leha. Tapi irinya lumrah, sehingga diapun menyadari batas kemampuan anaknya yang tidak sepandai Ririn.
Di tengah-tengah perbincangan yang sedang berlangsung, tiba-tiba pandangan Bu Leha tertuju ke arah seorang kakek-kakek tak berkaki membawa sebuah kaleng di tangannya. Rasa simpatinyapun muncul.
”Bu, Kasihan sekali orang itu.” Ucapan Bu Leha membuat Bu Ida ikut-ikutan memandang kakek peminta-minta itu.
”Ya, Bu! Biar saya kasih saja. Ini saya ada uang kecil.”
”Saya juga ada.”
Keduanya kemudian memasukkan uang ke kaleng kakek tadi. Bu Leha seribu. Bu Ida seribu.
”Terimakasih, Bu! Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang lebih banyak.” Kata kakek itu.
Keduanyapun serentak menjawab”Amin!”
Kakek itupun segera pindah ke kursi lain dengan berjalan ngesot. Setelah sampai di kejauhan, Bu Leha kemudian kembali membicarakan kakek itu.
”Bu Ida, apa kakek itu punya anak ya? Kalau seandainya saya punya ayah seperti dia, saya akan menyuruhnya di rumah saja. Saya akan merawat dan melayani segala kebutuhannya. Kasihan sekali. Kalau memang dia punya anak, kejam sekali anaknya itu.” Bu Ida yang diajak bicara, akhirnya membuka mulut juga.
”Ya, begitulah hidup Bu. Setiap kejadian yang kita lihat selalu mengajarkan kita. Baik buruknya seseorang memang sulit diterka. Sekali orang berbuat kejahatan, selamanya orang akan menganggap dia jahat. Begitu juga sebaliknya. Kita hanya bisa mengambil hikmahnya saja.” Bu Leha mengangguk iba.
Sudah tiga stasiun yang dilewati. Keduanya terus bercakap-cakap membuat rasa panas jadi agak terendam. Beberapa penjaja berkali-kali lewat. Tapi mereka tak menghiraukan. Memang dari rumah, mereka sudah menyediakan bekal. Tidak ada salahnya hidup ekonomis dan membebaskan diri untuk sementara dari hal-hal yang praktis dan efisien.
Entah sudah sampai dimana mereka juga tidak terlalu paham. Apalahi Bu Leha. Yang jelas terlihat pemandangan sawah yang luas dengan tanaman padi di atasnya. Sebagian memang ada yang sudah dipanen. Namun tidak mengurangi keindahan hamparan hijau yang dipisahkan oleh gunung. Dibaliknya awan jingga terlihat jelas menunjukkan hari sudah akan berubah menjadi gelap. Saat itulah beberapa penumpang ada yang mulai terlelap. Seorang penumpang di ujung gerbong mukanya ditutup koran. Tidak ada yang tahu apakah dia tertelap atau bangun.
Saat itulah terdengar kembali raungan bel kereta yang mirip sirine itu. Kereta berhenti. Banyak yang tak menghiraukan. Memang pemandangan stasiun tidak terlalu menarik untuk diperhatikan. Bagi para penjaja yang ada di stasiun, itulah waktu yang dinanti-nanti. Dimana barang dagangannya bisa mereka jual sesuai kebutuhan para penumpang yang tidak menyediakan bekal dari rumahnya.
Beberapa orang yang sudah tertidur ada yang menggerakkan tubuhnya. Mulai dirasakan mungkin hawa panas dari dalam gerbong. Juga Bu Leha yang tadinya sempat memejamkan mata. Dia terbangun. Dilihatnya sebuah telpon seluler yang semula berada di tasnya, ternyata sudah jam setengah tujuh. Tangan satunya mengipas-ngipaskan kertas bekas kotak roti yang dibawanya. Semakin lama aliran gerakan tangannya semakin cepat. Seperti seseorang yang mengalami hawa panas yang sangat.
Kereta berhenti lama sekali. Meski Bu Leha tidak tahu persisnya jam berapa kereta itu berhenti, tapi dia bisa merasakan betapa lamanya. Penumpang yang lain mungkin merasakan hal yang serupa. Termasuk orang yang ada di sudut gerbong yang tadinya mukanya tertutup koran, sekarang koran itu dibuatnya untuk mengipas-ngipas tubuhnya. kemejanya basah. Keringat melilit di leher, sebagian mengalir ke dadanya. Sehingga dia rasa perlu untuk membuka dua kancingnya agar hembusan kipas lebih berasa.
Bu Leha terus mengipasi anggota badannya. Sedangkan Bu Ida yang duduk berhadapan dengannya asik terlelap dengan Ani di pangkuannya. Kemudian Bu Leha kembali membuka telpon selulernya. Sudah jam enam empat puluh tujuh menit. Berarti kereta itu berhenti sekitar setengah jam-an. Dicarinya nomor suaminya. Setelah ditemukan segera ditekan tombol dial yang ada di sudut kanan atas. Lama terdengar suara khas dial dari seberang. Bertanda yang ada diseberang belum mengangkatnya. Tapi beberapa saat kemudian terdengar juga suara.
”Halo! Ada ada, Ma?”
”Anu. Keretanya berhenti. Lama sekali. Mama gak tahan, Pa. Panasnya minta ampun.”
”Ya!”
”Masak berhentinya lama sekali. Mungkin sudah setengah jam lebih berhenti.”
”Ya!”
”Pokoknya mama nggak mau lagi naik kereta. Kapok! Panas!”
”Ya!”
”Ntar pulangnya Mama naik bis aja deh!”
”Ya!”
”Ya, Pa! Pokoknya Papa gak usah ngerasain gimana naik kereta. Tersiksa, Pa!”
”Ya!”
”Bener. Kalau bukan karena Bu Ida yang ngajak, Mama juga gak bakalan mau. Ternyata semua yang Papa kata benar. Mana baunya gak enak lagi. Ya, kalaupun Mama harus terpaksa naik kereta, tapi bukan kereta yang seperti ini. Paling nggak yang enakan. Mahal sedikit gak apa-apa. Yang penting gak tersiksa.”
”Ya!”
”Wah, Papa dari tadi ya, ya terus. Ngomong apa kek. Bikin Mama tampah sebel saja. Ya sudah, Mama tutup dulu. Kayaknya pulsanya mau habis.”
”Makanya, kalau dibilangin itu nurut. Ja…” Belum selesai suami Bu Leha menasehati istrinya, jaringannya terlebih dulu terputus. Tapi dia tidak menghubungi istrinya kembali. Memang sengaja dibiarkan, supaya dijadikan pelajaran oleh istrinya.
Bu Leha benar-benar susah memejamkan mata.
Kareta berhenti lama sekali.
Di hadapannya Bu Ida terlihat nyenyak sekali. Tapi dia mendengar semua percakapan Bu Leha dengan suaminya. Iapun merasa bersalah. Mungkin ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya Bu Ida mengajak Bu Leha untuk naik kereta kelas ekonomi. Tidak terlalu disalahkan juga dirinya, karena dia sudah menawarkan agar Bu Leha naik bis saja, supaya tidak tersiksa. Bu Leha terus memaksa. Alasannya iba. Entah dari sisi mana keibaan itu muncul bila akhirnya harus melahirkan sesuatu yang benar-benar menyakiti hati orang yang diibainya. Hati Bu Ida benar-benar terpukul. Tidak lagi Bu Ida menganggap kebaikan Bu Leha sebagai kebaikan. Hatinya serasa terlilit caci-maki teman sepengajiannya.
Kereta berhenti lama sekali. Tapi kemudian sebuah sirine berbunyi. Panjang sekali.

7 September 2007

Filed under: Ceritera

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Linky


"Bila kau tak ingin menghilang dari dunia ini, maka berbuatlah sesuatu yang patut dikenang dan tulislah sesuatu yang mesti diabadikan" Kalau saja ungkapan itu tidak salah, mengapa harus kita hindari. Mencoba! tidak ada salahnya. Berbuat! suatu keharusan. Salah! Who makes no mistakes, makes nothing! Ya, begitulah kira-kira! Selamat membaca!

salam
Ali Ibnu Anwar

Hot News

Day to Day

Mei 2008
S S R K J S M
    Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Numpang

Dokumen

Suara Sumbang

Nge-blog yuk!

%d blogger menyukai ini: